|

Takut Gagal Tak Akan Jadi Pemenang

The art of life, though, is to fall seven times and to get up eight times…

Gagal bukanlah saat kita tidak berhasil melakukan sesuatu. Gagal adalah jumlah kejatuhan kita sama dengan jumlah kebangkitan kita. Gagal tujuh kali dan bangkit tujuh kali pula. Namun kita tidak gagal jika jatuh tujuh kali dan bangkit delapan kali.

ARDHANIA Reswari, Wira Sangga, Shinta Kusumalarma Sari, Ahmad Ulin Nuha, dan Yesika Moerindah juga pernah gagal. Tidak hanya sekali malah. Tapi gagal tidak berarti berhenti. “Gagal itu hanya menandakan cara kita kurang tepat, atau waktu kita memang belum sampai untuk jadi berhasil. semua orang pasti pernah gagal, tapi manusia kan diciptakan sebagai makhluk yang kuat menghadapi kegagalan,” tutur Yesika.

Yesika dan keempat temannya geng book club yang sore itu membahas tema kegagalan. Buku yang didiskusikan berjudul La Tahzan for Students, Membangun Kecerdasan Sang Pemenang.
Dalam buku ini, diceritakan berbagai kisah tentang kehidupan manusia yang berbeda. Tidak semuanya beruntung, tidak semuanya berhasil. Beberapa orang harus jatuh cukup dalam sebelum akhirnya berhasil. Beberapa ynag lain harus berusaha sekeras mungkin sebelum akhirnya bisa menjadi bintang. Pendek kata, untuk jadi pemenang, seseorang pasti merasakan kegagalan dahulu.

“Kayaknya itu sudah fitrah ya. Kalau mau berhasil, harus gagal dulu, harus berusaha sekeras mungkin dulu. Dengan begitu kita belajar dan dengan begitu kita jadi makin kuat,” papar Ulin.
Di usia yang masih muda, kegagalan yang datang (tampaknya) lebih banyak. Wajar saja, karena kita belum punya banyak pengalaman menjalani hidup dan bertemu masalah yang pelik. “Kalau kita baru berusaha meraih cita-cita, kita tidak punya pengalaman. Karena itu, gagal adalah wajar. Kegagalan malah akan memberi kita pengalaman yang berharga,” lanjut Shinta Kusumalarma atau Ita.

Gagal, lanjut Ita, adalah sebuah tahapan yang memang sudah ada di garis kehidupan manusia. Karena itu, manusia tidak boleh takut gagal. Dalam percobaan di laboratorium, kata-kata trial and error cukup sering terdengar. Berbagai jalan dan metode yang kita tempuh untuk meraih cita-cita adalah trial and error dalam hidup. Suatu saat pasti berhasil, tapi harus gagal dahulu.

Paparan tentang kegagalan dalam buku ini disajikan cukup baik. Terperinci dan menyeluruh. “Orang tidak akan jadi pemenang kalau takut gagal dan salah. Itu adalah inti dari buku ini, menurutku. Kalau gagal, harus bangkit lagi. Dengan begitu kita bisa maju,” katanya.
Penyadaran tentang tidak perlunya kita meratapi kegagalan memang perlu ditekankan. Bukan apa-apa, anak muda identik dengan karakter mudah frustasi dan menyerah. Banyak anak muda yang gagal berusaha, kemudian depresi dan enggan bangkit dan memulai kembali usahanya. Di buku ini, tidak bisa bangkit dari kegagalan dianggap sebagai gagal yang sesungguhnya.

“Mungkin itu kenapa banyak buku motivasi untuk anak muda. Agar kita terbentuk jiwa optimismenya. Dan tidak gampang menyerah,” tutur Wira.
Bangkit dari gagal memang tidak mudah. Kelima bookaholic ini harus mengakui, kegagalan menimbulkan ketidaknyamanan dan perasaan sedih. “Ada beberapa kegagalan yang memang nyesek banget. Rasanya seperti tidak punya energy lagi untuk bangkit. Aku pernah mengalami yang seperti itu. Setiap orang pernah. Tapi hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terus-terusan,” kata Yesika.

Sebagai penguat, buku ini dilengkapi banyak contoh sukses orang-orang besar. “Dengan banyaknya contoh yang ada, kita dipaksa melihat, oh, gagal itu memang dialami siapa saja. Dan orang yang berhasil adalah orang yang tidak menyerah dengan keadaan,” kata Wira.

Ajaran Islam tentang perjuangan menuju keberhasilan cukup mewarnai buku ini. Bahkan, banyaknya istilah keislaman yang tidak dijelaskan secara rinci kadang membuat pembaca bingung. “Beberapa penjelasan juga panjang banget. Kurang bervariasi,” keluh Ita.

Wira buru-buru menambahkan, setelah membaca, buku ini sebaiknya didiskusikan. “Memang, kalau dibaca sendiri kadang tidak paham. Karena itu, perlu ada diskusi lebih lanjut. Jadi hal-hal yang kita belum paham bisa ditanyakan,” paparnya. (luf)

Posted by Wawan Kurniawan on 19.21. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented