|

Udhik-Udhik Miyos Gongso Sekaten Berlangsung Meriah

YOGYA (KRjogja.com) - Salah satu prosesi dalam Miyos Gongso pada upacara Sekaten Mulud Dal Tahun 1943, udhik-udhik, berlangsung meriah. Ratusan warga yang telah memadati Bansal Ponconiti saling berebut untuk mendapatkan uba rampe yang disebarkan dalam udhik-udhik.

Salah satu warga yang sempat ditemui KRjogja.com mengaku sangat senang mendapatkan dua uang logam yang disebarkan oleh rayi keraton. "Remen sanget. Dipun rewangi jumpalitan mboten mesti angsal. (Senang sekali. Meski dengan berjatuhan saja belum pasti bisa mendapatkan udhik-udhik)," jelas Sutinem (51 tahun).

Warga Sentolo Kulonprogo ini mengaku sudah dua puluh tahun menanti udhik-udhik seperti ini. Tahun ini, selain mendapatkan dua logam, Sutinem juga mencari bunga setanam yang tersebar di halaman Bangsal Ponconiti. "Niki kagem ngalap berkah. (Ini untuk mencari berkah)," ujarnya.

Makna udhik-udhik ini sendiri merupakan simbol kepedulian raja atau seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Uba rampe yang dilemparkan dalam tradisi udhil-udhik ini ialah uang logam, beras kuning dan bunga setaman. "Artosipun pareng ndalem ganjaran, yakni seorang pemimpin itu harus memberikan ganjaran atau kepedulian terhadap rakyatnya. Uang logam ini mempunyai makna yang sangat dalam. Sebab, pada zaman dulu, uang logam merupakan harta yang paling berharga," jelas KRT WasesoWinoto, salah seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang menjabat sebagai Pangirit Pasedahan KHT Widomangono Keraton.

Rayi Keraton Yogyakarta yang menyebar udhik-udhik ini ialah Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat yang merupakan adik dari Sri Sultan HB X. GBPH Prabukusumo menyebar udhik-udhik di sebelah kanan Bangsal Ponconiti, sementara GBPH Yudhaningrat menyebar udhik-udhik di sebelah kiri bangsal. (Dhi)

Posted by Wawan Kurniawan on 04.53. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels