|

30 Persen Remaja Pernah Berhubungan Seks

HARIAN JOGJA - WATES: Penyebarluasan informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) kian mendesak dilakukan. Pasalnya, kasus seks bebas remaja juga konsumsi Narkoba serta remaja yang terkena HIV/AIDS kian mengkhawatirkan. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan PMPDP dan KB Kabupaten Kulonprogo Krissutanto dalam acara pertemuan Advokasi KIE tentang KRR di kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPDP dan KB) Kabupaten Kulonprogo Rabu (10/3) lalu.

“Persoalan remaja yang berkaitan dengan KRR perlu perhatian berbagai pihak. Salah satunya melalui advokasi dan KIE tentang KRR. Dari sini nanti kita tingkatkan pemahaman, sikap dan perilaku positif remaja untuk meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya,” papar Krissutanto. Menurut kepala BKKBN Pusat Sugiri Syarief, sekitar 30% remaja Indonesia pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Sementara 22,6% remaja termasuk penganut seks bebas.

Data dari Departemen Kesehatan RI, terungkap bahwa delapan persen pria berumur 15-24 tahun telah menggunakan obat-obatan terlarang. Sedangkan 3,02% dari total penderita HIV/AIDS adalah remaja umur 15 – 19 tahun serta 54,77% adalah kelompok usia 20 – 29 tahun. Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Mardiya berharap, melalui kegiatan advokasi dan KIE KRR, mampu memberikan pemahaman kepada para remaja danmasyarakat sehingga menjadi generasi yang berkualitas.

Maryadi menambahkan kegiatan ini mendesak untuk dilakukan mengingat semakin banyaknya kasus-kasus yang berkaitan dengan isu triad KRR (seksualitas, napza dan HIV AIDS). “Untuk Kulonprogo kasus begini memang tidak menonjol jika dibandingkan dengan kabupaten kota lain di DIY. Tapi jika dibiarkan, dikhawatirkan nanti akan menjadi bom waktu yang akan menghambat pembangunan di Kulonprogo.

Nantinya kita berharap ada upaya lebih intensif dari pemerintah seputar KRR khususnya di Kulonprogo,” tandasnya. Sementara itu, di Kulonprogo kasus pernikahan usia dini (di bawah 16 tahun untuk wanita dan di bawah 19 tahun utuk pria) juga telah berkembang cukup mengkhawatirkan, karena jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Bila 2006 baru terdapat 19 kasus, pada 2007 telah meningkat menjadi 41 kasus dan pada 2008 menjadi 68 kasus.

Oleh Martha Nalurita
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 00.00. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented