|

5 Persen Daerah DIY Curang UAN

HARIAN JOGJA: Dua hari menjelang penyelenggaraan ujian akhir nasional (UAN) Dinas Disdikpora DIY mengeluarkan pernyataan yang cukup memprihatinkan. Berdasar analisis yang dilakukan, ditemukan ada sebanyak 5% daerah penyelenggara UAN DIY terindikasi melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian tahun 2009.

Indikasi kecurangan tersebut terlihat dari kesamaan kesalahan jawaban beberapa siswa di satu penyelenggara ujian. Analisis jawaban peserta ujian dilakukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik). Sementara di Gunungkidul dikabarkan distribusi soal UAN SMA/SMK dari provinsi ke Sub Rayon II Gunungkidul mengalami keterlambatan.

Soal yang dijadwalkan tiba di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Wonosari pukul 10.45 WIB ternyata baru tiba sekitar pukul 13.00 WIB, Sabtu (20/3). Suwarsih Madya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DIY) menguraikan 5% daerah yang terindikasi melakukan itu ditandai sebagai daerah hitam. Selain itu masih ada lagi daerah abu-abu sebanyak 20%. Daerah abu-abu itu diindikasi melakukan kecurangan namun dengan bobot lebih kecil dibanding status hitam.

Daerah penyelenggara UAN berpredikat hitam dan abuabu, menurut Suwarsih bisa dihilangkan sehingga pelaksanaan ujian di DIY berpredikat putih semua. “Hanya dengan kejujuran yang berdasar tata tertib predikat putih akan dicapai,” katanya saat melepas tim distribusi UAN, Sabtu (20/3). Saat pengiriman soal, sebanyak 5 truk bertugas mengantar soal untuk SMA, MA, SMK ke 29 kelompok kerja di DIY.

Soal itu akan digunakan ujian 19.613 siswa SMA, 22.563 siswa SMK, 21 siswa SMA luar biasa, 6 siswa SMA inklusi, 7 Siswa SMK tunarungu. Meski beberapa kali ditanya apakah pemetaan daerah bisa diindikasikan berdasar kabupaten atau sekolah, Suwarsih enggan menjawabnya. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Koordinator Pengawas UAN Depdiknas mengaku ada kebijakan secara nasional bahwa daerah hitam dan abu-abu diperketat pengawasannya.

Bahkan pengawasan yang ketat itu masuk dalam standar operasional pengawasan ujian. “Kami berharap ada kecenderungan untuk turun [tingkat penyimpangan UAN tahun ini],” katanya di sela-sela pelepasan tim distribusi soal UAN DIY kemarin. Senawi SNHB, Koordinator Tim Pemantau Independen Provinsi DIY menambahkan siswa yang melanggar tata tertib ujian langsung dinyatakan tidak lulus ujian yang diikuti.

Bentuk pelanggaran itu bisa berupa siswa membawa ponsel ke kelas, mencontek, saling berbagi jawaban dan sebagainya. Kecurangan semacam itu, lanjut dia, memang masih ditemukan dalam ujian tahun lalu. Namun tindakan siswa itu tidak sampai menerbitkan indikasi kecurangan sistemis. “Harapannya sekarang tidak ada,” katanya. Selain itu, tambah dia, pengawas diharapkan bisa bertindak tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan siswa, sehingga ujian benar-benar berjalan dengan jujur.

Terlambat 2 jam Sementara itu mengenai keterlambatan soal UAN di Sub Rayon II Gunungkidul Ketua Kelompok Kerja (Pokja) 2 Sub Rayon II Gunungkidul Sangkin mengatakan sejauh ini pihaknya belum mendapat alasan resmi dari percetakan soal ataupun Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY. Adapun, oleh salah seorang petugas kepolisian yang mengawal distribusi soal ke Sub Rayon II, keterlambatan soal diakibatkan truk pengangkut soal mengalami kerusakan pada aki sehingga truk tidak bisa tiba di percetakan pada Sabtu pukul 05.00 WIB.

Selain mendistribusikan soal UAN ke SMKN 2 Wonosari, truk tersebut juga mendistribusikan soal ke Pokja 1 Sleman di Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Kalasan, Pokja 5 Sleman di SMK 1 Kalasan, Pokja 1 Gunungkidul di SMA 1 Wonosari dan SMKN 1 Wonosari dan Pokja 2 Gunungkidul di SMA 1 Karangmojo.(miu/gek)

Posted by Wawan Kurniawan on 17.28. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels