|

Bersepeda Sambil Meluruskan Sejarah

YOGYAKARTA (SI) – Sekitar seribu pesepeda mengikuti Night Ride on Jogja Bike Lane, sebuah acara peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949,di Kota Yogyakarta, tadi malam.

Mereka ngonthel keliling kota sepanjang kurang lebih lima kilometer dari mulai Gardu Anim Kota Baru hingga Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Negara. Iring-iringan rombongan pesepeda melewati rute Jalan FM Noto, Jalan Sunaryo, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan P Diponegoro, Jalan Kyai Mojo, Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan RE Martadinata, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan P Senopati, Jalan Sultan Agung dan Jalan Kusumanegara.

Setelah berkeliling kota, rombongan sepeda kemudian mengikuti renungan bersama Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto dan Adam Sheila on Seven. Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Disparsenibud) Kota Yogyakarta Yulia Rustianingsing mengatakan, Night Ride on Jogja Bike Lane tidak hanya semata-mata bertujuan menyukseskan program Sego Segawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe). Namun memiliki misi khusus meluruskan peristiwa SO 1 Maret yang sebenarnya kepada masyarakat. Salah satu pelaku sejarah yang ikut dalam renungan di TMP, Olot Sarjiman menceritakan, rencana Serangan Oemoem 1 Maret muncul dari keprihatinan Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Yang kemudian diungkapkan kepada Jenderal Sudirman. Oleh Jenderal Sudirman, keprihatinan Sri Sultan HB IX direspon dengan memerintahkan semua unsur tentara untuk melakukan serangan di waktu Fajar atau Subuh. ”Pertimbangannya waktu itu,pasukan Belanda belum siap karena mengira masih malam,” kata Olot Sarjiman. Sementara itu Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X tetap meyakini bahwa ayahandanyalah sebagai penggagas Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Hanya saja dia tidak ingin kontroversi tersebut dibesarbesarkan lagi. Menurut Sultan, untuk membongkar fakta seputar penggagas Serangan Umum 1 Maret sangatlah sulit.

Sulitnya mengungkap fakta tersebut diakibatkan adanya keterangan berbeda antara almarhum HB IX dengan mantan Presiden RI ke-2 Soeharto. Berdasarkan penuturan HB IX, beliaulah penggagasnya. Namun Soeharto mengaku tidak pernah bertemu dengan HB IX sebelum serangan umum. ”Sekarang yang diperlukan adalah orang- orang tua (pendahulu) yang mengalami proses itu bisa bicara atau enggak. Fakta ini memang sulit, karena yang bertemu cuma dua orang saja,” ungkapnya , kemarin. (abdul malik mubarak/ arif budianto)

Posted by Wawan Kurniawan on 15.28. Filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels