|

Pilbup, Polisi Temukan Upal

Total Rp 26,6 Juta, Pelaku Mengaku Dukun Pengganda Uang
BANTUL - Sama seperti di daerah lain, memasuki pemilihan kepala daerah (pilkada) dapat dipastikan polisi selalu mengungkap adanya tidak kriminal peredaran uang palsu yang dilakukan oleh sekelompok orang tidak bertanggungjawab. Kali ini, Polsek Bambanglipuro Bantul berhasil mengungkap peredaran dan pengadaan uang paslu (upal) yang diduga dilakukan tersangka Murjono, warga Dusun Boro, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur, Kulonprogo. Murjono yang diduga praktek sebagai dukun pengganda uang ini ditangkap polisi ketika sedang bertandang di rumah saudaranya Suradi, di Dusun Cepoko, RT 04, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro.

Kapolsek Bambanglipuro, Iptu Muryanto menegaskan anggota kepolisian Polsek Bambanglipuro pada Rabu dini hari kemarin sekitar pukul 01.00 telah menangkap tersangka pengedar dan pengganda uang palsu. Ketika menangkap tersangka, polisi menemukan barang bukti berupa uang seniali Rp 26,6 juta serta mengamankan empat unit sepeda motor dan jinglot serta bunga tabur. Muryanto menceritakan detik-detik jelang penangkapan para tersangka, dari luar suasana rumah milik Suradi tampak sunyi dan gelap gulita tanpa lampu penerangan. Tapi, dibagian ruangan belakang terlihat terang.

"Awalnya ada informasi dari masyarakat bahwa ada warga yang dapat menggandakan uang dengan cara supranatural. Setelah mendapat informasi tersebut petugas langsung melakukan penyelidikian dan akhirnya ditemukan barang bukti berupa uang palsu senilai puluhan juta rupiah," kata Muryanto kepada wartawan dikantornya, kemarin (24/3).

Selain menangkap Murjono, polisi juga sempat mengamankan Darsini, 45, isteri Murjono dan Fitriati, 20, putri Murjono. Dua wanita yang merupakan warga Jambon Kidul RT 2, Cacaban Magelang Jawa Tengah ini belum ditetapkan sebagai tersangkan, keduanya hanya dijadikan saksi. Sementara barang bukti uang yang berhasil diamankan petugas dalam bentuk berbagai pecahan antara lain ung pecahan Rp 100 ribu sebanyak tujuh lembar, pecahan Rp 50 ribu sebanyak 423 lembar, pecahan Rp 10 ribu sebanyak 167 lembar, pecahan Rp 5 ribu sebanyak 477 lembar dan pecahan Rp 2 ribu sebanyak 445 lembar.

"Uang itu ditemukan didalam tas dan dompet milik tersangka. Selain itu, petugas juga mengamankan empat unit sepeda motor, jenglot dan tabur bunga," tegas Muryanto.

Menurut masyarakat, tersangka memang berprofesi sebagai dukun pengganda uang. Saat ini polsek Bambanglipuro sedang intensif memerika tersangka dan saksi untuk mengetahui motif menggandakan uang dan juga mencari siapa saja yang sudah menjadi korban dari perbuatan tersangka. "Untuk motif dan siapa saja korbannya, kami masih memeriksa secara intensif kepada para tersangka," paparnya.

Pasca penangkapan para tersangka, polsek Bambanglipuro langsung berkoordinasi dengan Polres Bantul dan Polda DIJ untuk mengungkap peredaran uang palsu. Apakah peredaran dan pengadaan uang paslu tersebut ada hubungan dengan pilkada seperti dana kampanye? Muryanto mengungkapkan tidak bisa memastikan, apakah peredaran dan penggadaan uang palsu tersebut ada kaitannya pilkada Bantul.

"Segala kemungkinan ada. Kita sudah berkoordinasi dengan KPU, muspida dan masyarakat Bantul untuk menjaga suasana jelang pilkada ini supaya tetap kondusif sehingga mewujudkan pilkada yang bersih, jujur, adil dan aman," papar Muryanto.

Kepada penyidik, tersangka Murjono mengaku uang palsu itu belum sempat diedarkan dan sama sekali tidak ada korban. "Saya sama sekali tidak mengedarkan uang itu, sumpah pak," kata Murjiono kepada penyidik.

Darsini, 45, istri siri Murjiono mengatakan uang palsu yang dimiliki suaminya tersebut dibeli di kawasan malioboro, dekat lapak-lapak yang menjual sepatu. "Uang itu hanya mainan mas, kalau mas mau beli uang mainan itu banyak dijual di lapak-lapak yang ada di malioboro. Setiap lembar uang mainan seharga Rp 1.500, jelas Darsini.

Sebagai isteri, Darsini mengaku tidak mengetahui secara pasti uang mainan yang dikatakan polisi merupakan uang palsu tersebut digunakan untuk apa. Sebab, ia jarang berada di rumah karena bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. "Saya tidak tahu uang itu digunakan untuk apa, saya tidak pernah di rumah dan baru beberapa hari ini pulang ke rumah untuk menengok anak," jelas Darsini. (mar)

Posted by Wawan Kurniawan on 02.31. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented