|

Proyek Bribin II Akan Dilanjutkan

GUNUNGKIDUL - Proyek Bribin II, yang menaikkan air dari sungai bawah tanah akan dilanjutkan kembali. Kali ini air akan dinaikkan dari Gua Seropan di Desa Semuluh, Kecamatan Semanu. Untuk menggerakkan turbin, pipa kayu akan menampung air. Selanjutnya turbin itu akan menaikkan air tanpa tenaga listrik. Jika air sungai di dalam Gua Seropan bisa diangkat, maka akan menghasilkan 100 liter per detik.

Proyek Bribin II Goa Seropan telah melayani kebutuhan air bersih bagi 67.000 jiwa atau sekitar 70 persen dari 117.000 jiwa. Proyek itu mampu menghasilkan air sekitar 80 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Gunungkidul Utara, di antaranya Kecamatan Ponjong dan Semin. Proyek ini dirancang agak berbeda dengan Bribin I di Dusun Sindon, Desa Dadapayu, Kecamatan Semanu, Gunungkidul. Dalam proyek Bribin II, air sungai bawah tanah dibendung, dan kemudian disalurkan melalui pipa-pipa dari kayu

Kamis (11/3) kemarin, Proyek Bribin II yang berhasil menaikkan air dari Gua Sindon sebanyak 80-100 liter per detik diserahkan dari penggagas proyek yakni Karlsruhe Institute of Technology Jerman kepada Kementerian Pekerjaan Umum, di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari. Hadir dalam acara penyerahan itu Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono X, Bupati Gunungkidul Suharto, dan Guru Besar Karlsruhe Institute of Technology Jerman, Franz Nestmann. Sehari sebelumnya, nota kesepahaman proyek itu, tentang Integrated Water Resources Management, ditandatangani antara Kementerian Pekerjaan Umum, Karlsruhe Institute of Technology (Jerman), dan Badan Tenaga Atom Nasional.

Proyek pengangkatan air dari Gua Seropan itu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Gunungkidul Utara, seperti Kecamatan Ponjong, Semin, Ngawen, dan Nglipar. Dengan proyek itu, selain akan menghasilkan air, juga dirancang untuk menghasilkan energi listrik yang bisa dipakai untuk pompa di Bribin I. Tujuannya untuk mengurangi biaya pemompaan air ke atas. Sebab, biaya tergolong mahal, yaitu Rp 5.000 per meter kubik. Jika proyek itu jadi, akan menekan biaya hingga Rp 3.000 per meter kubik.

Dalam acara penyerahan, Djoko Kirmanto mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan Bribin II. Tidak hanya aspek pemeliharaan teknis, tetapi juga memastikan suplai air. Selain meresmikan Bribin II, Djoko secara simbolis juga meresmikan sejumlah pekerjaan infrastruktur dari Kementerian Pekerjaan Umum, di DIJ antara lain Embung Tambakboyo di Kabupaten Sleman, Bendung Sapon di Kabupaten Kulonprogo, Jembatan Gawe di Kabupaten Bantul dan dam pengendali sedimen Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak di Kabupaten Sleman.

Djoko menambahkan, proyek tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi krisis air bersih yang selama ini dialami masyarakat Gunungkidul saat kemarau. Teknik pengangkatan air yang digunakan di Bribin II juga diharapkan dapat diterapkan di belahan wilayah karst lainnya di Indonesia.

Adapun Sultan dalam acara itu berharap air yang diangkat ke permukaan tak hanya untuk kebutuhan air minum, tapi juga untuk pengairan ladang yang sering kekeringan di musim kemarau. Sultan juga berharap agar Bribin II menginspirasi banyak perguruan tinggi dan peneliti. Bribin sudah membuka akses bagi penelitian lanjutan. Penelitian-penelitian itulah yang diharapkan menyejahterakan warga di kawasan karst, yang selama ini identik dengan kekeringan dan kemiskinan. (hsa)

Posted by Wawan Kurniawan on 21.00. Filed under , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented