|

Proyek Wisata di Pathuk Mandek

HARIAN JOGJA | PATHUK: Pengembangan sektor pariwisata di Kecamatan Pathuk, Gunungkidul akan mengalami hambatan, menyusul pelaksa naan Pilkada yang artinya pemerintah akan fokus pada perhelatan tersebut. Padahal pada 2010, Kecamatan Pathuk menargetkan bisa memulai pembuatan taman buah di kaki Gunung Nglanggeran, Kelurahan Nglanggeran, Pathuk yang memiliki luas 30 hektare (Ha).

Saat ini tempat itu sudah menjadi arena outbond dan diharapkan dengan adanya taman buah seperti halnya Tamansari di Bogor, Jawa Barat agar bisa menarik wisatawan lebih banyak. Camat Pathuk, Budi mengatakan saat ini adalah momen mendekati Pilkada juga harus menunggu komitmen Bupati yang baru. “Sudah saya sampaikan ke Bupati sekarang, karena sekarang akan pergantian bupati jadi tunggu komitmen bupati baru,” jelas Camat Pathuk Budi kepada Harian Jogja di ruang kerjanya, Selasa (2/3).

Dengan ada taman buah maka tempat wisata di kaki gunung semakin lengkap. Pasalnya daerah di bawah gunung Nglanggran yakni Dusun Bubung Kelurahan Putat, Kecamatan Pathuk ada pusat kerajinan kayu seperti
patung dan topeng. “Sebelah selatan ada desa wisata Bubung yang menjual kerajinan kayu sekalian menjadi rangkaian wisata di lokasi tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, kawasan wisata gunung berapi purba yakni Gunung Nglanggeran saat ini dikelola kelompok karang taruna Bukit Putra Mandiri. Salah satu anggota, Triyono mengatakan bantuan dari pemerintah berupa dana secara langsung belum ada. “Tapi kalau bantuan mengajak wisatawan sering dilakukan.” Triyono menjelaskan, konon sekitar 60 juta tahun silam gunung tersebut aktif mengeluarkan lava dari perut bumi.

Oleh karena sudah tidak aktif, gunung Nglanggeran meninggalkan bongkahan-bongkahan batu keras sangat besar. Selain itu, sambung Triyono, wisatawan yang berkunjung tidaklah relatif banyak. Kalau hari biasa ada 10-20 pengunjung, sedangkan kalau hari libur bisa mencapai 100 orang.

“Yang datang biasanya anak-anak atau mahasiswa yang melakukan outbond atau panjat tebing,” jelas Triyono. Tarif yang dikenakan untuk pengunjung adalah Rp2.000 dan jasa penitipan sepeda motor Rp1.000. Tidak ada penginapan di tempat itu, rumah penduduk bisa menjadi tempat bermalam dengan membayar Rp7.000.

Oleh Akhirul Anwar
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 02.00. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented