|

Ritual Umat Melasti di Parangkusumo

BANTUL(SI) – Kawasan Pantai Parangkusumo, Kretek,kemarin nampak semarak. Ribuan umat Hindu dari Yogyakarta dan sekitarnya mengikuti upacara Melasti.

Mereka mengenakan pakaian tradisional seperti kain Bali maupun Jawa dan tak lupa membawa serta berbagai sesaji. Alunan musik tradisional khas Bali turut menambah semaraknya suasana.Tidak hanya umat Hindu, rangkaian prosesi ritual ini juga menyedot perhatian wisatawan yang berkunjung di kawasan objek wisata Parangtritis yang bersebelahan dengan Parangkusumo.

Ketua Umum Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1932 wilayah DIY Budhi Sayonto mengatakan upacara Melasti di Pantai Parangkusumo merupakan rangkaian Hari Raya Nyepi. Pelaksanaan upacara di Parangkusumo kemarin merupakan melasti untuk yang kedua kalinya. Pada 28 Februari lalu,upacara melasti telah dilaksanakan di Pantai Ngobaran,Gunungkidul.

“Rangkaian upacara selanjutnya adalah Tawur Kasanga yang dilaksanakan 15 Maret mendatang di Candi Prambanan,” paparnya kemarin. Sedangkan makna upacara melasti sendiri yakni proses pembersihan lahir bathin manusia dan alam,dengan jalan menghayutkan segala kotoran menggunakan air kehidupan. Karena itu, prosesi sembahyang dilakukan di sumbersumber air.

Budhi menjelaskan,prosesi dilaksanakan selambat-lambatnya menjelang sore.“Upacara ini juga bertujuan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar umat Hindhu diberi kekuatan dalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi,”jelasnya. Prosesi melasti sendiri diawali dengan iring-iringan jempana dan sesaji yang diusung ke tepi pantai hingga kaki para pengusung menyentuh air laut.

Selanjutnya berbagai sesaji tersebut diletakkan di meja yang telah disiapkan. Begawan Putra Manuaba beserta para “wasi” dan para “sutri” memimpin pemujaan di hadapan umat Hindu dengan membaca mantra (doa), sementara umat dengan khidmat dan hening mengikuti persembahyangan tersebut. Usai pemujaan dilanjutkan dengan ritual nunas tirta,pemuka umat Hindu berjalan ke tepi pantai untuk mengambil air laut yang digunakan sebagai salah satu sarana persembahyangan.

Pemuka umat Hindu kemudian memasukkan air laut tersebut ke dalam genthong yang sebelumnya juga telah diisi air dari berbagai sumber, yang sering disebut tirta amarta. Air tersebut diambil dari Sendang Pitu di Gunung Merapi, Pantai Ngobaran Gunung Kidul dan Prambanan.

“Ritual ini merupakan simbolisasi dari penyucian diri bagi umat Hindu agar diberi kekuatan lahir dan bathin oleh Sang Hyang Widhi dalam menunaikan tapa brata di Hari Nyepi mendatang,” papar Candra, salah satu umat Hindu yang mengikuti melasti. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa dan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa,secara berurutan rangkaian ritual ini yakni natab banten biyekaon, durmanggala dan prayastita.

Dilanjutkan ritual sembahyang dengan urutan yakni puja trisandya, kramaning sembah, meditasi dengan hening membaca doa Angamet Sarining Bhuwana, dilanjutkan nunas tirta amarta yakni para pemuka agama memberikan air suci kepada para umat. Rangkaian doa dan sembahyang diakhiri dengan ritual parama santi.

Sebelum upacara ritual berakhir, berbagai macam sesaji dilabuh di Laut Selatan.Seluruh umat Hindu yang hadir diharuskan agar anggota badannya terkenai air laut sebagai simbolisasi penghayutan segala kekotoran. (priyo setyawan/kurniawan)

Posted by Wawan Kurniawan on 01.00. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels