|

Lagi, Dinlopas Sukses Relokasi Pedagang Pasar

Pindah Dari Jalan Tridharma Ke Pasar Talok
RADAR JOGJA -Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja kembali torehkan prestasi. Tanpa diwarnai aksi bentrok seperti halnya di daerah lainnya, Dinas Pengelolaan Pasar (Dinlopas) Kota Jogja sukses merelokasi 120 pedagang, di Jalan Tridarma, Gendeng, Baciro. Mereka kini menempati Pasar Talok juga di daerah yang sama.

Sebelumnya, pedagang sayuran ini menempati Jalan Tridarma. Selama lebih dari lima tahun berdagang di pasar tiban, mereka kini menempati pasar yang lebih layak. Berdagang di atas tanah 454 meter persegi, setiap pedagang mendapatkan tempat dua meter persegi.

"Modulnya kami desain memang lebih kecil. Karena sesuai dengan kebutuhan dari pedagang yang menggunakan tenggok. Jadi, luas tersebut tetap membuat aktivitas jual beli tetap leluasa," kata Kepala Dinlopas Ahmad Fadli, kemarin, disela peresmian Pasar Talok ini.

Fadli juga menjelaskan perdagangan di Jalan Tridarma ini sebelumnya hanya ada tujuh orang. Namun, seiring dengan jumlah pembeli yang bertambah, membuat perdagangan di jalan ini bertambah. Sampai akhirnya pemkot memutuskan untuk merelokasi pedagang tersebut dan membangungkan pasar yang lebih representatif.

Berjualan di pinggir jalan tentu saja, aktivitas mereka tidak legal. Semua pedagang di pasar ini sebelumnya memang tidak memiliki Kartu Bukti Pedagang (KBP). Baru, enam bulan ke depan, Dinlopas menargetkan semua pedagang mengantongi kartu tanda legalitas pekerjaannya.

"Enam bulan setelah hari ini kemarin (25/4), kami targetkan seluruh pedagang sudah mengantongi KBP. Saat ini kami berikan toleransi mereka untuk fokus mendapatkan pangsa pasar dulu," imbuhnya.

Seperti halnya pembangunan pasar-pasar tradisional lainnya, Dinlopas juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang kebersihan dan aktivitas pedagang. Di pasar ini dilengkapi dengan tempat sampah organik dan non-organik, kamar mandi, mushola, dan kantor pengelola. "Kami juga berharap pembangunan pasar ini dapat menumbuhkan perekonomian di daerah Baciro," terangnya.

Hal sedana juga diungkapkan Herry Zudianto, Wali Kota Jogja. Herry berharap selain digunakan aktivitas perdagangan sayuran, masyarakat juga bisa melakukan aktivitas ekonomi lain di pasar ini. "Di sini aktivitas perdagangan dimulai sejak dari Shubuh sampai dengan pukul 14.00. Setelah itu bisa digunakan warga sekitar untuk beraktivitas perdagangan yang lain. Sehingga, ekonomi warga sekitar juga terangkat adanya pembangunan pasar ini," tuturnya. Saat ini, karang taruna setempat telah mendapatkan lampu hijau mengelola parkir pasar tersebut.

Pedagang pasar tradisional, kata Herry, harus bisa bersaing dengan pasar modern seperti supermarket yang sudah banyak berdiri di Kota Jogja. Mereka harus memperhatikan layanan kepada pembeli dan yang paling utama kebersihan.

"Pasare resik rezekine apik. Itu prinsip yang harus dipegang semua pedagang di pasar-pasar tradisional," jelasnya.

Di pasar yang terletak di Kecamatan Gondokusuman ini, nantinya baru akan dibebani retribusi setelah enam bulan berjalan. Besarnya retribusi juga akan disesuaikan dengan besarnya transaksi penjualan di pasar. (eri)

Posted by Wawan Kurniawan on 20.57. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented