|

Setahun, Cuma 95 Turis ke Kulon Progo

KULON PROGO, KOMPAS.com - Meski masih berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, wilayah Kulon Progo belum dilirik turis asing. Kulon Progo juga tidak banyak menikmati dampak kunjungan wisata karena sebagian besar wisatawan menginap di daerah lain.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Kulon Progo, kunjungan wisatawan asing selama tahun 2009 hanya 95 orang. Angka ini turun drastis dibanding jumlah wisatawan asing pada 2008 yang mencapai 291 orang.

Kepala Seksi Pemasaran dan Promosi Wisata Disbudparpora Kulon Progo, Ekasari Winarsiwi, Senin (26/4) menuturkan, pihaknya sudah berupaya mempromosikan obyek wisata di wilayahnya. Antara lain, bersama 14 kabupaten/kota di DIY dan Jawa Tengah dalam wadah Java Promo. Namun hingga saat ini, dampak promosi terhadap tingkat kunjungan wisata, utamanya wisatawan asing, belum terlihat.

Selama ini wisatawan asing lebih tertarik untuk mengunjungi wisata minat khusus seperti ke Pusat Penyelamatan Satwa Jogjakarta (PPSJ) dan ziarah di Sendangsono. Namun, mereka tetap menginap di Yogyakarta sehingga dampak kunjungan wisatawan terhadap perekonomian lokal kurang terasa.

Obyek wisata lain yang diunggulkan seperti Waduk Sermo dan Pantai Glagah tidak dilirik wisatawan asing. " Biasanya wisatawan asing itu kan ikut paket wisata, jadi tergantung biro wisatanya mau mengajak mereka kemana," tutur Ekasari.

Menurut dia, agen perjalanan wisata memegang peranan penting dalam menentukan lokasi yang dikunjungi wisatawan. Pihaknya sudah mencoba menawarkan obyek wisata di Kulon Progo kepada pemilik agen perjalanan wisata. Namun lokasi obyek-obyek tersebut dinilai terlalu jauh dari Kota Yogyakarta sehingga kebanyakan agen perjalanan wisata enggan mengajak tamunya ke Kulon Progo.

Anom Sudarinto, staf Bagian Pemasaran dan Promosi Wisata Disbudparpora Kulon Progo menambahkan, akhir-akhir ini wisatawan dari Malaysia cukup sering datang ke Kulon Progo. Akan tetapi, mereka ternyata bukan wisatawan murni. Mereka lebih tertarik mengunjungi sentra pertanian maupun kerajinan untuk belajar, sekaligus menjajaki kemungkinan berdagang dengan petani dan perajin di Kulon Progo.

Sebelumnya, Ketua Public Relations Yogyakarta yang juga salah satu pelaku industri pariwisata DIY, Deddy Pranowo, menilai, pemerintah kabupaten/kota di DIY belum menyadari bahwa pariwisata menjadi pendorong ekonomi daerah.

Hal itu bisa dilihat dari anggaran wisata yang minim, infrastruktur wisata yang tidak memadai serta kurangnya inovasi dalam menciptakan atraksi wisata di daerahnya masing-masing. Pertanian misalnya, memang itu sangat penting. Tapi jika diolah dengan baik, lahan pertanian itu bisa menjadi modal untuk menarik wisatawan, jelasnya.


Posted by Wawan Kurniawan on 20.15. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented