|

Parangtritis Banjir, Petani Rugi Rp1,8 M

BANTUL: Tanaman bawang merah milik petani Sanden terancam puso akibat banjir yang merendam 90 hektare (ha) di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul. Adapun, total kerugian petani bawang merah diprediksi mencapai Rp1,8 miliar.

Petani Dusun Depok, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek Suripto mengatakan hujan deras sejak Jumat (14/5) merendam 2.500 meter lahan. Dia memastikan produksi tanaman bawang merah berkurang separuh atau mencapai 20 kwintal bawang. Padahal bawang merah itu akan digunakan sebagai bibit menjelang musim tanam pada Juli mendatang. Selain itu, dia mengeluhkan anjloknya harga bawang merah selama beberapa pekan.” Pengeluaran kami tidak sebanding dengan hasil panenan. Harga pupuk yang melambung membuat kami merugi,” ujarnya di Dusun Depok, Desa Parangtritis, Sabtu (15/5).

Buruh sortir bawang merah Daryati mengkhawatirkan turunnya produktivitas bawang akibat banjir menyebabkan petani pemanen mengurangi tenaga sortir. Sebelum banjir merendam lahan, sebanyak 40 buruh mampu menyortir 30 hingga 40 kg bawang merah. Jasa sortir bawang merah per kg dihargai Rp300. “Hujan deras yang terjadi beberapa hari ini menyebabkan berkurangnya hasil panenan. Kami khawatir pemanen akan mengurangi tenaga buruh sortir,” cetus dia.

Lima dusun
Sementara, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Disperhutan) Pemerintah Kabupaten (Pemkab Bantul Edy Suhariyanta menjelaskan sebanyak 90 ha lahan terendam banjir dari total 145 ha tersebar di Dusun Depok, Samiran, Duwuran, Grogol, dan Bukus. Bawang merah yang dipanen petani mencapai usia 21 hingga 55 hari.

Petani dipastikan mengalami kerugian sebesar Rp1,8 miliar dari total panenan sebesar 1.080 ton bawang merah. Hal itu mencakup pengeluaran petani untuk pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemupukan, dan pembelian bibit. “Dalam satu hektare kerugian petani diprediksi mencapai Rp20 juta. Lahan-lahan petani Sanden terancam puso karena hujan deras diprediksi akan kembali turun,” kata Edy saat ditemui di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek.

Menurutnya, genangan air hujan yang merendam bawang merah petani asal Sanden berasal dari limpahan air perbukitan yang terletak di sebelah Timur Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis. Hujan deras pada Mei ini menandakan penyimpangan iklim karena memasuki musim kemarau. Selain itu, saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik, kata Edy menghambat aliran air. “Penyimpangan musim jadi penyebab utama tergenangnya lahan petani,” imbuh dia.

Sejumlah petani mulai mengetahui kejadian tersebut pada Sabtu (15/5) pagi. Wilayah yang terendam semakin meluas dan tinggi. Berbagai usaha untuk membuang air sudah dilakukan, seperti memompa air keluar, namun tidak kunjung berhasil. Sebab limpahan air dari daerah yang lebih tinggi di Utara terus datang.

Seorang petani, yang juga merupakan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Parangtritis Sumarman mengaku lahan bawang seluas 1 hektar miliknya yang berusia 40 hari terancam gagal panen, jika air tidak segera surut hari itu juga. Kerugian modal budi daya mencapai sekitar Rp12 juta, di luar perhitungan waktu dan tenaga.

Sumarman menilai penyebab tidak lancarnya aliran adalah bukaan (klep) bagian ujung dari saluran irigasi yang saat ini tengah dibuat terlalu tinggi, dan landasan saluran yang saat ini tengah diperbaiki di bagian paling Selatan lebih tinggi daripada bagian saluran yang lama.

Dasar perhitungan lama
Kepala Dinas Sumber Daya Air Ign. Yulianto mengakui penilaian itu. Menurut papan kerja proyek itu merupakan kegiatan Rehabilitasi Afvour Depok dengan dana bantuan sosial berpola hibah Tahun Anggaran 2009, kerja sama antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana dengan Pemkab Bantul. Nomor kontrak 04.23/ PPK/ RRPB – DBSBH/ LL/ III/ ADp/ 10 tertanggal 17 Maret 2010 dengan nilai kontrak Rp575,39 juta, dilaksanakan oleh CV Ananda Karya.

Yulianto menjelaskan rancangan demikian berdasar pada perhitungan terhadap ketinggian dasar Kali Opak yang lama. Dasar Kali Opak sudah turun lebih dari 5 meter, sehingga klep jadi tidak berfungsi, namun justru menyulitkan air mengalir dari Utara ke Selatan. Dulu, klep dirancang supaya air tidak masuk dari ujung Selatan.

Adapun pasir di bagian ujung Kali Opak itu terus diambil, tidak seimbang dengan pasokan pasir dari lereng Merapi yang mulai berkurang. “Makanya sekarang perlu dibenahi,” ucapnya di lokasi.

Pukul petani penyewa
Musibah tersebut sangat memukul kalangan petani kecil yang lahannya menyewa dari tanah kas desa dalam hitungan petak [1 petak = 500 m2]. Tarifnya mulai RpRp65.000 per petak per tahun, sampai Rp100.000 per petak per tahun, tergantung kondisi dan letak tanah.

Seorang petani, dengan luas lahan yang terendam 1.300 m2 dan usia tanam bawang 15 hari, Khoiri, mengaku berutang untuk memulai usahanya. Dia mengatakan sebagian petani yang punya dana lebih sudah berupaya untuk membuang air dengan pompa, namun air tidak juga habis. “Mungkin masih bisa diselamatkan kalau gerak cepat,” ucap warga Pedukuhan Grogol VII ini.

Sementara petani lain, dengan luas lahan yang terendam 500 m2 dan usia tanam bawang 4 minggu, Karjono mengaku pesimistis bawang tersebut dapat diselamatkan. Petani kecil ini sudah pasrah. “Ini karena airnya tersumbat,” keluhnya didampingi petani kecil lain yang letak lahannya bertetangga, Kuardi.

Sejumlah petani bawang itu sudah beberapa tahun memulai usahanya. Dalam satu tahun mereka panen bawang dua kali, dan satu kali padi, dan kadang-kadang disela tanaman cabai.

Oleh Shinta Maharani & Heru Lesmana Syafei
Harian Jogja

Posted by Wawan Kurniawan on 18.55. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels