|

Pengawasan Lebih Longgar


SLEMAN: Ujian Akhir Nasional (UAN) ulangan bagi siswa SMP di DIY yang tidak lulus bakal dilaksanakan mulai hari ini.

Di Sleman, sebanyak 3.007 siswa akan mengikuti ujian ulangan hingga Kamis (20/5). Pihak Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman menyatakan pengawasan akan diperlonggar dengan tujuan siswa tidak tegang.

Kepala Seksi Kurikulum dan Kesiswaan SMP Disdikpora Sleman Sita Permatasari mengimbau siswa agar mengikuti ujian dengan serius untuk mencapai kelulusan.

Sita mengatakan pengawasan akan lebih diperlonggar, agar siswa yang mengikuti tidak tegang dan bisa lebih percaya diri.

“Kalau pada ujian yang lalu anak-anak banyak tegang dan secara psikologis menjadi terganggu, karena pengawasannya memang ketat, kami akan lebih melonggarkan pengawasan,” ujar Sita kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (15/5).

Sita mengatakan pengawasan yang longgar itu bukan berarti siswa lantas bebas tanpa pengawasan. Melainkan sistem pengawasan yang akan dievaluasi. Misalnya pengawas tidak mondar-mondar di tempat duduk siswa, karena itu malah akan membuat siswa tegang dan takut.

“Kita akan membuat suasana pengawasan yang lebih rileks dan tidak tegang, sehingga siswa bisa mengerjakan dengan konsentrasi,” ujarnya.

Mengenai mekanisme UAN ulangan tidak berbeda pada saat pelaksanaan UAN pertama. Ia mengatakan untuk pelaksanaan akan difokuskan di Pokja masing-masing, namun khusus untuk Gamping akan di bagi di dua sekolah yakni SMPN 1 dan SMPN 3 Gamping. “Pesertanya memang lebih banyak dari Gamping sehingga harus dua sekolah,” kata dia.

Adapun di Bantul, sebanyak 2.402 siswa SMP/MTs negeri dan swasta se-Bantul mengikuti ujian ulangan. Kepala Dinas Pendidikan Dasar (Disdiksar) Bantul Sahari mengatakan ujian ulangan digelar di 29 sekolah, yang tersebar di 17 kelompok penyelenggara (pokja). Ratusan siswa mengulang karena tidak mengikuti ujian utama UAN dan tidak lulus. Sebanyak 2.083 siswa mengulang mata pelajaran matematika, 2.033 siswa mengulang Bahasa Inggris, 1.545 mengulang IPA dan 460 siswa mengulang Bahasa Indonesia.

Menurutnya, soal ujian ulangan telah didistribusikan pada 17 Pokja Sabtu (15/5) kemarin. Pihaknya menjamin keamanan soal hingga pelaksanaan ujian. Sementara, bentuk pengawasan melalui sistem silang antar sekolah dalam satu pokja. “Kami berharap siswa menjaga kejujuran dan tidak mempercayai kunci jawaban palsu. Sekolah telah membekali siswa melalui bimbingan khusus,” kata dia di Bantul, Sabtu (15/5).

Di sisi lain, kepolisian diminta mengusut pelanggaran pelaksanaan ujian akhir nasional (UAN) 2010 terutama beredarnya kunci jawaban saat ujian. Bila tidak ditangani serius masalah serupa menjadi bahaya laten dunia pendidikan.

“Pihak kepolisian bisa mengusut masalah ini dengan melihat data yang sudah dikumpulkan selama pelaksanaan ujian,” kata Sekretaris Tim Pemantau Independen (TPI) DIY Harmanto di sela-sela pendistribusian soal UAN ulangan untuk SMP/MTs, Sabtu (15/5).

Persoalan kunci jawaban, menurut Harmanto, harus segera diusut karena modusnya bisa berkembang seiring perkembangan teknologi. Selain semakin sulit ditangani masalah itu mengancam kualitas dunia pendidikan.
Harmanto menilai ancaman dunia pendidikan itu hendaknya menyadarkan semua pihak untuk evaluasi. Terlebih DIY yang dikenal sebagai kota pendidikan ternyata menyimpan masalah yang serius.

TPI saat pelaksanaan UAN SMA dan SMP bertugas mengawasi pelaksanaan ujian sesuai dengan prosedur standar operasional (POS). Hasil pengawasan dilaporkan ke penyelenggara di tingkat provinsi dan bisa menjadi bahan awal penyelidikan kepolisian.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY Suwarsih Madya mengaku pengusutan masalah UAN terbentur ujian yang masih berlangsung. Sehingga pengkajian bisa dilakukan setelah rangkaian ujian dilaksanakan.

“Kami baru bisa mengkaji masalah kegagalan ujian nasional setelah UAN ulangan selesai,” katanya. Dinas sudah menyediakan tim investigasi terdiri dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Dikpora, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) DIY, kepala sekolah hingga guru.

Suwarsih berharap pemerintah kabupaten/kota terlibat dalam penanganan masalah UAN di DIY. Pasalnya mereka menerima pelimpahan wewenang pelaksanaan UAN dari tingkat provinsi DIY.

Terkait pelaksanaan UAN ulangan 17 – 21 Mei, Koordinator UAN DIY Baskara Aji menguraikan ada 10.800 siswa yang dijadwalkan ikut. Secara lebih khusus terdapat 6 siswa low vision dan 1 autis yang akan ikut ujian ulangan.

Ujian diselenggarakan di kelompok kerja yang ditunjuk. “Siswa mengerjakan ujian sesuai mata pelajaran yang belum lulus, baik untuk Bahasa Indonesia, Matematika, IPA maupun Bahasa Inggris,” katanya menjelaskan mata pelajaran yang akan diikuti siswa.

Oleh Miftahul Ulum, Theresia T. Andayani & Shinta Maharani
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 13.27. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels