|

Pilkada Sleman 2010 : Gerilya Timses dimulai

SLEMAN: Pertarungan antar kandidat yang sesungguhnya bakal terjadi menjelang detik-detik akhir pencoblosan. Pencitraan yang telah dibangun selama kampanye masih memerlukan alat politik yang jitu, sehingga bisa dipertahankan hingga pemilihan. Bahkan, pembangunan citra itu terkadang berujung politik uang yang kerap disebut serangan fajar.

Direktur Eksekutif, Institute for Research and Empowerment (IRE) Jogja Arie Sujito menilai para kandidat seharusnya menegaskan sikap untuk tidak akan melakukan politik uang. "Mempertahankan citra itu memang tidak gampang karena tim sukses sering memanfaatkan hari-hari terakhir menjelang pencoblosan dengan serangan fajar," ujar dia kepada Harian Jogja, Rabu (19/5).

Menurut Arie, untuk menjaga peluang menang, para kandidat harus bisa memastikan bahwa kalkulasi yang telah dilakukan tidak mengalami perubahan. Namun menurut Arie hal itu tidak gampang dilakukan mengingat potensi timbulnya gesekan juga sangat tinggi.

"Gesekan antar tim sukses yang mungkin terjadi menjelang hari-hari pencoblosan. Saling intip kekuatan lawan yang pada akhirnya sering menimbulkan kecurigaan akan terjadinya politik uang tersebut sehingga memunculkan perang tarif," kata dia.

Arie melihat bahwa pada sebagian besar kasus pilkada akhir-akhir ini, terjadi kecenderungan bahwa pragmatisme tidak hanya menjangkiti para kandidat, tetapi juga telah menjalar kepada masyarakat pemilih.

"Karena itu, menang secara simbolik belum tentu akan menang dalam perolehan suara. Ada juga dalam beberapa kasus justru menang karena alat politiknya berjalan dalam koridor yang sangat baik," tegas dosen UGM ini.

Belakangan ini, kata dia, masyarakat pemilih lebih mengukur kandidat dari segi uang. Hal itu, kata dia, terjadi karena alat-alat politik para kandidat tidak bekerja secara efektif. Karena itu besar kemungkinan citra yang dicoba dibangun dalam waktu yang lama bisa jatuh dalam satu hari karena dikalahkan oleh politik uang tersebut.

Selain itu, Arie juga berharap agar elemen masyarakat mengambil peran dalam pencegahan politik uang tersebut terutama dari kalangan masyarakat menengah. Masyarakat, kata dia, harus berani melaporkan jika terjadi dugaan politik uang.

Dia melihat adanya kecenderungan masyarakat takut untuk melaporkan tindakan kecurangan seperti money politics karena adanya ancaman keselamatan dan teror. Di sisi lain, Panwas Pilkada juga memiliki keterbatasan.

Merajalela
Kekhawatiran merajalelanya money politics juga dirasakan di Gunungkidul. Hal tersebut terungkap dalam dialog publik Kesadaran Berbagai Pihak untuk Melaksanakan Pemilihan Umum yang Jujur Tanpa Politik Uang yang digelar Gerakan Perempuan Anti Politik Uang (Gerapu) di Gedung PDHI, Selasa (18/5).

Ketua Gerapu Sri Suryanti mengatakan para kontestan pada dasarnya bisa dibatalkan statusnya apabila terbukti melakukan pelanggaran berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum.

“Adapun, dalam praktiknya di lapangan sangat sulit karena praktik politik uang sering menggunakan dalih cost politik. Dan hal itu sulit dibuktikan karena masyarakat tidak berani bersaksi,” kata dia.

Terpisah, Sugiyanti mengatakan Gerapu cukup miris melihat praktik politik uang sudah merajalela bahkan semakin membudaya. Adapun, Gerapu tetap optimistis sosialisasi anti politik uang bisa membuka hati masyarakat untuk jujur pada hati nurani.

Tak hadir
Di Bantul, debat publik calon dinilai menjemukan. Debat selama satu setengah jam tidak menarik karena pertanyaan yang dilontarkan panelis hanya seputar karakteristik masyarakat Bantul. Adapun, cabawup, Ibnu Kadarmanto dari pasangan Kardono-Ibnu Kadarmanto (Karib) tidak hadir.

Kedua cawabup cenderung menyampaikan hal yang sama. Mereka berjanji akan melibatkan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan, budaya, pertanian, dan perdagangan. Mereka menyinggung penyiapan sumber daya manusia (SDM) dalam kegiatan pemerintahan.

Ratri Lila, salah satu pengunjung debat publik mengatakan acara itu menjemukan. Alasannya, pertanyaan yang disampaikan terkesan diulang. Selain itu, jawaban dari semua calon tidak inovatif. “Pertanyaan dan jawaban yang disampaikan dalam debat kurang mendalam dan tidak menggelitik. Sajian semua debat publik landai dan menjemukan,” kata dia di Bamboo Resto, Sewon, Bantul, Rabu (19/5).

Di Sleman jatah terakhir kampanye diperuntukkan bagi pasangan Ahmad Yulianto-Nuki Wakhinudatun (AY-Nuki), Bugiakso Kabul, Mimbar – Wening dan Sukamto – Suhardono.

Pasangan AY-Nuki menutup masa kampanye dengan lomba menangkap lele di kolam bersama warga di wilayah Sleman, Depok dan Berbah.

Adapun Bugiakso-Kabul Muji Basuki berkampanye terbuka dengan dihadiri 2.000 pendukungnya di Lapangan Ambarketawang Gamping, Rabu (19/5).

Di Gunungkidul, kampanye diwarnai dialog interaktif calon bupati (cabup) yang digelar Forum LSM Gunungkidul, Harian Jogja, dan radio Argososro 93.2 FM, Selasa (19/5) malam. Sayang acara dinilai kurang greget. Pasalnya dari empat cabup, hanya dua yang hadir mereka adalah Sumpeno Putro dan Yanto.

Oleh Galih Eko Kurniawan, Esdras Idialfero Ginting & Shinta Maharani
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 22.19. Filed under , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels