|

Warga Bingung Disensus

HARIAN JOGJA: Warga di tiga kabupaten di DIY yakni Gunungkidul, Bantul dan Sleman mengaku kebingungan dengan pelaksanaan sensus penduduk (SP) 2010 yang telah dilakukan petugas pencacah.

Pasalnya petugas pencacah hanya melakukan penempelan stiker di rumah yang didatangi, serta mencatat jumlah anggota keluarga tanpa menanyakan hal lainnya.

Tiga kabupaten tersebut memang telah memulai SP 2010 sejak beberapa waktu lalu dikarenakan akan melaksanakan pilkada. Sementara untuk Kota Jogja, Kabupaten Kulonprogo dimulai Sabtu (1/5) lalu.

“Saya hanya ditanya berapa jumlah penghuni yang laki dan berapa yang perempuan yang tinggal di sini. Setelah dicatat, petugas kemudian pergi dan hanya menempelkan stiker di pintu,” kata Supoyo, warga Jlantir I, Gedangrejo, Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.

Ia mengaku didatangi petugas sensus minggu lalu dan tidak menjelaskan apakah akan kembali lagi atau tidak.

“Setahu saya sensus tidak seperti itu. Ini kok yang ditanya hanya berapa jumlah penghuni rumah, tidak yang lainnya,” tanya Supoyo, kepada Harian Jogja.

Sementara Sumarni, warga kepek I, Desa Kepek, Wonosari menyatakan telah didatangi petugas sensus. “Namun yang didata hanya bangunan saja. Yang dicatat kondisi rumah, seperti lantainya apa,” kata dia yang mengaku petugas memang sempat mengatakan akan datang lagi.

Nurcahyo, warga Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman juga mengaku bingung dengan cara kerja petugas sensus. Pasalnya petugas hanya datang dan mendata berapa jumlah penghuni rumah.

“Setelah dicatat, petugas pencacah langsung pergi tanpa memberitahukan kapan akan kembali lagi. Sebelumnya pintu rumah saya ditempeli stiker,” kata Nurcahyo yang menilai BPS kurang melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan SP 2010.


Selain mengalami kasus yang sama, Retno, warga Perum Bumi Mulya, Godean, Sleman sempat heran karena tidak hanya rumah yang berpenghuni saja yang ditempeli stiker, rumah kosong alias tak berpenghuni juga ditempeli stiker oleh petugas pencacah.


“Ya, aneh aja kok rumah kosong ditempeli stiker. Yang mau didata apa? Kan tidak penghuninya,” kata Retno yang menyatakan seharusnya BPS Sleman melakukan sosialisasi terlebih dahulu sehingga warga tidak kebingungan.

Kendati sempat diberi penjelasan kalau petugas sensus akan datang lagi, Wening, warga Ngoto, Sewon, Bantul menyatakan hanya ditanya berapa jumlah penghuni rumah.

“Petugas sensus hanya mendata berapa jumlah perempuan dan laki-laki yang tinggal di rumah ini. Selanjutnya bilang akan datang lagi, tapi tidak memberi tahu kapan,” kata ibu berputri satu ini.

Ribuan pencacah
Ribuan petugas pencacahan lapangan (PCL) yang direkrut Badan Pusat Statistik (BPS) masing-masing kota/kabupaten diterjunkan untuk mendata masyarakat.

Marwanto Kepala BPS Bantul, menyatakan pihaknya menerjunkan 2.202 PCL yang terbagi dalam 3.224 blok sensus (BL).

“Jumlah petugas yang turun nantinya akan terbagi dalam PCL sebanyak 1611 petugas, kordinator tim sebanyak 537 orang, dan kordinator lapangan sebanyak 54 orang,” kata dia seusai upacara Pelepasan Petugas Sensus 2010 di rumah dinas Bupati Bantul, Sabtu (1/5) lalu.

Sementara di Sleman 2.344 PCL siap diterjunkan untuk mendata penduduk yang tersebar di 3.513 blok sensus (BS).

Kepala BPS Sleman Heru Bowo mengakui ada salah pemahaman di masyarakat terkait sensus penduduk yang dilakukan PCL di lapangan. Kesalah pahaman itu terjadi pada proses pendataan awal atau proses listing di mana PCL yang diterjunkan hanya mengajukan pertanyaan sekadarnya saja.

"Itu pertanyaan awal yang akan ditindak lanjuti kembali oleh PCL tersebut. Jadi, belum selesai," kata dia, Minggu (2/5).

Sedangkan 1.504 PCL diterjunkan di Kabupaten Gunungkidul yang akan melakukan pendataan di 2.258 wilayah tugas (blok sensus). Ketua BPS Gunungkidul Harjana optimistis target menyelesaikan 80% SP di Gunungkidul akan tercapai sebelum pelaksanaan pilkada.

Sementara sebanyak 808 PCL juga telah siap untuk melakukan pencacahan di Kota Jogja, terhitung mulai Sabtu (1/5) hingga 31 Mei mendatang.

Dua tahap
Mengenai kebingungan warga terkait proses pencacahan, Kepala BPS Bantul Marwanto dan Kepala BPS Sleman Heru Bowo menyatakan dalam pelaksanaan di lapangan, nantinya tahap sensus penduduk ini akan dibagi dalam dua tahap.

Tahap pertama adalah proses listing atau pendataan awal oleh petugas dari rumah ke rumah.

Di tahap ini pertanyaan yang akan diajukan oleh petugas hanyalah tentang nama dan jumlah anggota keluarga saja. Tahap ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan memetakan kesulitan yang nantinya ditemukan petugas di lapangan.

“Sehingga wajar saja jika banyak warga yang bertanya kok pertanyaan yang diajukan petugas sensus sederhana sekali, tidak seperti digembor-gemborkan. Kami nilai hal itu wajar saja sebab pertanyaan intinya akan diajukan petugas pada tahap kedua,” kata Marwanto.

Di tahap kedua nantilah masyarakat akan mendapatkan berbagai pertanyaan yang dalam daftarnya mencapai sekitar 30 item. Dalam pertanyaan itu selain dipertanyakan tentang pekerjaan, pendidikan, kependudukan, juga berbagai hal tentang kondisi tempat tinggal juga diajukan.(KUK/HAR/END/ONO/DIC)

Oleh Rochimawati
HARIAN JOGJA

Posted by Wawan Kurniawan on 22.29. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels