|

Wuih.. Gunung Kidul Panen Belalang

GUNUNG KIDUL, KOMPAS.com- Memasuki bulan Juni, petani di Gunung Kidul mulai memanen belalang kayu. Bagi sebagian masyarakat, limpahan belalang justru menjadi sumber mata pencaharian selama lebih kurang enam bulan. Panenan belalang ini akan berlangsung hingga Desember mendatang.

Selain untuk konsumsi keluarga, belalang juga diperjualbelikan dengan keuntungan bisa Rp 100.000 per orang per hari. "Peminat tidak hanya dari Yogyakarta, ada yang dari Jawa Tengah," ujarnya, Rabu (9/6/2010).

Menurut penjaja belalang kayu (Valanga nigricornis zehntneri Krauss) dari Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Imbang (50), tiap hari dia bisa memanen 600 belalang dengan harga jual Rp 200 per ekor. Biasanya, belalang tersebut ludes terjual setiap harinya.

Penjaja belalang pun mulai berderet di beberapa ruas jalan di Gunung Kidul seperti di Jalan Semanu-Wonosari, Wonosari-Baron, dan Playen-Paliyan. Karena tingginya minat masyarakat, pedagang seperti di Pasar Argosari, Wonosari, bahkan mendatangkan belalang dari daerah lain seperti Pacitan (Jawa Timur) dan Wonogiri (Jawa Tengah)

Mayoritas penjaja belalang adalah petani tadah hujan yang memanfaatkan waktu luang setelah ladang tidak lagi bisa ditanami sembari menunggu panenan singkong pada Agustus mendatang.

Petani dari Desa Krambilsawit, Saptosari, Tugiman mengatakan panenan belalang menjadi satu-satunya alasan untuk tetap bertahan di desa dan tidak merantau ke luar kota.

Apalagi hasil penjualan belalang melebihi pendapatan jika mereka menjadi buruh bang unan di perkotaan dengan upah maksimal Rp 40.000 per hari.

Kebiasaan mengonsumsi belalang juga berperan dalam pengendalian populasinya sebagai hama tanaman pertanian. Belalang mulai bermunculan seusai panen padi tadah hujan dengan populasi terbesar di areal kehutanan.

Penulis: WKM | Editor: msh

internet marketing

Posted by Wawan Kurniawan on 05.49. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels