|

Merapi Masih Mengancam

SLEMAN(SINDO) – Gunung Merapi kembali meletus. Bahkan,erupsi pada Sabtu dini hari kemarin lebih dahsyat dibandingkan pada 26 Oktober lalu.Akibat erupsi tersebut abu Merapi menyelimuti Yogyakarta.

Letusan yang terjadi pada pukul 00.16 WIB ditandai dengan dua kali suara ledakan keras dan diikuti gempa yang terasa hingga Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Letusan diikuti luncuran awan panas hingga setinggi 3,5 km, dengan waktu lebih lama dibandingkan sebelumnya, yakni selama sekitar 21 menit, sejak pukul 00.16 hingga 00.37 WIB. Arah muntahan Gunung Merapi menuju arah barat, yakni Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Sedangkan aliran lahar yang dimuntahkan gunung teraktif di dunia itu bergerak menuju Sungai Apu, di daerah Selo, Boyolali, Jawa Tengah, yang berjarak 3 km dari puncak Merapi.Aliran lahar ini merupakan kali pertama meluncur ke arah Selo sejak Merapi meletus 26 Oktober lalu.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Subandriyo menyatakan letusan dini hari kemarin di luar prediksi para ahli geologi.Pascaerupsi 26 Oktober lalu, erupsi diperkirakan tidak terlalu besar. Namun, perkiraan tersebut ternyata meleset. Menurut dia, besarnya energi erupsi terjadi karena ada penyumbatan sehingga memicu letusan eksplosif.Dengan adanya penyumbatan tersebut, kemungkinan kembali terjadi letusan masih sangat dimungkinkan. “Ini karena suplai magma dari bawah masih sangat besar, sehingga dalam pelepasan energi tadi selain disertai awan panas, juga terjadi gempa,”terangnya.

Kepala Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG) Surono menyatakan sampai saat ini di puncak Gunung Merapi baru terlihat adanya titik api.Namun,lava tersebut belum sampai mengalir atau meleleh keluar sehingga dikhawatirkan dapat memicu letusan lagi. “Kondisi inilah yang memungkinkan masih akan terjadinya letusan Merapi yang sifatnya eksplosif,” ujar Surono kepada wartawan di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta,Sabtu.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku telah menerima informasi dari BPPTK terkait berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada gunung tipe strato tersebut.Karena itu,dia meminta masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) lebih waspada. “Kami hanya bisa mengimbau dan memberi tahu bahwa ini sangat bahaya.Tetapi kalau masyarakat tetap nekat tidak mau mengungsi, ya harus juga siap menanggung akibatnya. Semua bergantung pada diri sendiri,”katanya.

Letusan dini hari kemarin membuat alarm bencana berbunyi hingga warga di sejumlah kawasan dekat Merapi, seperti di Kaliurang, Desa Hargobinangun,Kecamatan Pakem, panik dan berhamburan menuju tempat lebih rendah. Kepanikan bertambah setelah terdengar ledakan susulan. Warga yang sebelumnya memilih bertahan berhamburan ke jalan dengan mengendarai motor atau mobil menjauhi titik letusan dan mencari tempat aman, di antaranya ke barak pengungsian Hargobinangun di Dusun Purworejo, Desa Hargobinangun,Pakem. Kepanikan juga terjadi di barak pengungsian.

Di antara mereka, langsung berjejal naik truk menuju lokasi pengungsian lain yang lebih aman. Bahkan, sebanyak 2.473 pengungsi yang tinggal di barak pengungsian Umbulharo, Cangkringan terpaksa dievakuasi ke barak Wukirsari,Cangkringan.Selain karena ancaman Merapi belum berhenti, mereka terpaksa harus dipindah karena barak ini dipenuhi debu vulkanik setebal 5 cm.Dampaknya, tempat tersebut tidak layak huni. Hingga pukul 01.00 WIB, arus warga dari lereng Merapi menuju bawah masih terlihat terus mengalir. Letusan juga membuat ribuan warga yang bermukim di tiga wilayah kecamatan di Kabupaten Boyolali, yakni Musuk, Cepogo, dan Selo panik.

Begitu pun warga Klaten yang tinggal di KRB Merapi. Sekitar 8.000 langsung meninggalkan tempat mereka menuju pospos pengungsian di Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Klaten. Sebenarnya pos pengungsian di Desa Dompol itu hanya untuk mereka yang berasal dari KRB III.Namun, penduduk dari daerah lainnya pun ikut mengungsi ke lokasi tersebut. Sementara itu, letusan Merapi juga menimbulkan hujan abu bercampur pasir turun dengan deras disertai air.Wilayah yang dilaporkan terkena hujan abu di antaranya Daerah Istimewa Yogyakarta; Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Magelang di Jawa Tengah. Di DIY,misalnya,hingga pukul 03.00 WIB, abu bercampur pasir masih turun di beberapa kawasan dekat Merapi sehingga menutupi jalan hingga setinggi lima sentimeter.

Beberapa wilayah yang terkena hujan abu adalah kecamatan Ngemplak,Ngaglik,dan Mlati,termasuk Kota Yogyakarta, diliputi pekatnya debu Merapi. Abu vulkanik dan bau belerang tercium sejak radius 20 km ke arah selatan Gunung Merapi, tepatnya di Jalan Kaliurang Km 10,Ngaglik,Sleman. Hujan abu ini membuat jarak pandang pengendara kendaraan hanya mencapai lima hingga delapan meter.Kendaraan yang melintas pun harus berjalan perlahan sambil menyalakan lampu utama kendaraan. Bahkan akibat jarak pandang yang terbatas ini, di pertigaan Posko Bencana Merapi Pakem terjadi kecelakaan lalu lintas, antara dua sepeda motor dari arah berlawanan,sehingga dua pengendaranya tewas.

Selain karena panik, kecelakaan terjadi karena kondisi gelap akibat hujan abu. Kondisi tersebut juga dikhawatirkan akan mengancam kesehatan masyarakat, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Menghadapi ancaman tersebut, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto menginstruksikan warganya untuk menggunakan masker atau penutup hidung. Namun, masyarakat terkendala untuk bisa mendapatkan masker. Hampir seluruh apotek di Kota Yogyakarta telah kehabisan stok masker, sementara persediaan masker yang dimiliki Pemkot Yogyakarta juga terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan masker warganya, wali kota kemarin telah memesan 100.000 masker dari Jakarta. Merapi juga mengacaukan penerbangan. Otoritas Bandara Adisucipto Yogyakarta sempat menutup aktivitas selama kurang lebih 1 jam 20 menit, sejak pukul 06.00 hingga 07.20 WIB.Wilayah di sekitar bandara internasional ini diselimuti abu vulkanik setebal kurang lebih 2 mm. Manajer operasional PT Angkasa Pura I Bandara Adisucipto,Haylendra, mengaku pihaknya harus menutup aktivitas untuk menghindari risiko lanjutan dari hujan abu ini.

Debu vulkanik yang mengandung partikel-partikel batu dan logam dikhawatirkan akan mengganggu, bahkan bisa mematikan jika masuk mesin pesawat.Sebelumnya,Kamis (28/10),pesawat Garuda Indonesia Airline dengan nomor penerbangan GA6010 yang mengakut jamaah calon haji asal Kabupaten Bantul mengalami kerusakan mesin di Bandara Hang Nadim Batam. Tercatat sebanyak lima penerbangan dibatalkan dalam rentang tersebut. Masing-masing Garuda Indonesia nomor GA201 tujuan Jakarta, Batavia Air BTV322 tujuan Jakarta,Merpati MZ708 tujuan Makassar, Ekspres 806 tujuan Makassar, dan Lion Air GT565 tujuan Surabaya.

Sementara satu penerbangan dialihkan ke Bandara Juanda Surabaya, yaitu Lion Air nomor penerbangan GT561, yang seharusnya mendarat di Bandara Adisucipto pukul 06.24 WIB. Sementara itu, Supervisor Sales Representative Garuda Indonesia Airlines (GIA) perwakilan Yogyakarta Endy Latief menyatakan, meski otoritas bandara sudah menyatakan aman, pihaknya belum berani membuka penerbangan untuk pesawat yang take off ataupun landing di bandara ini.

Dia belum bisa menentukan sampai kapan Garuda menganggap kondisi di Bandara Adisucipto aman untuk penerbangan mereka. Selain membatalkan penerbangan dari Yogyakarta, Garuda juga membatalkan penerbangan menuju Yogyakarta.
(priyo setyawan/angga rosa/ ridwan anshori/ratih keswara/ m.n latif/m abduh)



Posted by Wawan Kurniawan on 03.46. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels