|

Energi Merapi Masih Besar

YOGYAKARTA(SINDO) – Masyarakat di kawasan Merapi harus bersabar tinggal lebih lama di pengungsian.Hingga kemarin,gunung teraktif di dunia itu masih terus menebar ancaman.

Berdasarkan data seismograf di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, aktivitas Merapi masih tinggi. Tremor, awan panas, dan guguran lava pijar terjadi terus-menerus. Sejak meletus Rabu pekan lalu (3/11),gunung bertipe strato tersebut sudah meletus lebih dari 96 kali selama 4 hari tanpa henti. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengungkapkan, aktivitas Gunung Merapi tanggal 7 November 2010 pukul 06.00 sampai 12.00 WIB stabil tinggi.

Selama enam jam terjadi kegempaan vulkanik sebanyak 31 kali,sedangkan tremor,guguran, dan awan panas terjadi secara beruntun tiada henti. Menurut dia, berdasarkan pengamatan secara visual dari pos Ketep terjadi banjir lahar skala kecil di Kali Pabelan Kecamatan Sawangan.Hujan abu dan pasir juga terjadi dalam radius 10 km dari puncak Merapi serta suara menggelegar terdengar dari Prambanan yang berjarak sekitar lebih dari 40 km dari puncak Merapi. Dari pantauan juga terlihat adanya endapan awan panas di Kali Senowo yang terkena hujan sehingga mengeluarkan asap warna putih.Di Kali Apu Boyolali juga terjadi luncuran awan panas sejauh 3 km serta banjir lahar skala sedang sampai besar di Kali Putih.

“Berdasarkan data-data tersebut, Merapi masih berbahaya.Wilayah yang aman tetap berada di luar 20 km dari puncak Merapi,” ungkapnya. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar juga memastikanintensitasMerapimasih tinggi walau sifatnya fluktuatif. Dengan kondisi tersebut, sangat dimungkinkan masih akan terjadi letusan eksplosif yang disertai dengan luncuran awan panas.“Namun tentunya luncurannya tidak sejauh pada letusan tanggal 4–5 November lalu.Jarak luncur awan panas diperkirakan hanya 8 km, tidak seperti letusan dahsyat sebelumnya yang bisa mencapai 14 km,”katanya kemarin. Untuk mengetahui kondisi terakhir Merapi dan kesiapan penanganan bencana,pada hari kedua di Yogyakarta kemarin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono(SBY) mengunjungi Kantor BPPTK Yogyakarta.

Presiden juga mengunjungi Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat meninjau Kantor BPPTK Yogyakarta,Presiden sempat melihat seismometer yang menunjukkan erupsi Merapi masih berlangsung. Walaupun sudah meletus selama empat hari tanpa berhenti, energi Merapi masih tinggi.Dengan memperhatikan kondisi tersebut BPPTK tetap mempertahankan zona aman 20 km.“Letusan yang terjadi saat ini masih tinggi,lebih tinggi tiga kali lipat dibandingkan letusan pada 26 Oktober, tapi tetap berada di bawah letusan pada 5 November lalu.“Zona aman tetap 20 km,”jelas Sukhyar.

Kepada Presiden, Sukhyar juga menjelaskan bahwa pihaknya tidak akan memperluas zona aman yang saat ini dalam radius 20 km. Alasannya berdasarkan catatan sejarah selama ini.“Bukti empiris Merapi adalah belum pernah mengeluarkan awan panas lebih dari 15 km. Pada letusan dahsyat tanggal 4 dan 5 November awan panas maksimal meluncur sejauh 12 km. Awan panas sejauh 12 km itu juga merupakan yang terpanjang, bahkan pada letusan Merapi 1872 awan panas juga tidak sepanjang itu,”paparnya. Dijelaskan juga bahwa luncuran awan panas paling panjang tetap mengarah ke Kali Gendol. “Berdasarkan bukti empiris, ternyata pada kenyataannya awan panas hanya 12 km.

Memang mengarah ke semua sektor, tetapi yang terpanjang adalah ke Kali Gendol karena kawah Merapi terbuka ke arah selatan,”ungkapnya. Adapun Kepala BNPB Syamsul Maarif memastikan dalam radius 20 km dari puncak Merapi sudah steril, tidak lagi ditinggali penduduk. Dalam situasi tanggap darurat ini, BNPB memfokuskan diri pada dua hal.Pertamaadalah penanganan wilayah berbahaya dari Merapi, termasuk tempat-tempat yang sudah ditinggalkan penduduk. Hal itu dilakukan dengan melakukan sterilisasi wilayah zona bahaya dari penduduk, termasuk melakukan evakuasi penduduk yang terjebak. Fokus berikutnya adalah penanganan pengungsian dengan berusaha memenuhi segala kebutuhan pengungsi.

Relawan Tagana Tewas

BNPB mencatat,sejak 26 Oktober lalu korban meninggal akibat terjangan awan panas sebanyak 135 orang.Korban terdiri atas 123 orang di Kabupaten Sleman, 7 di Kabupaten Magelang, 3 di Kabupaten Boyolali,dan 2 di Kabupaten Klaten.Adapun korban yang mengalami luka bakar hingga pukul 12.00 WIB mencapai 408 orang. Saat ini mereka masih mendapat perawatan di beberapa rumah sakit di Klaten, Boyolali, Sleman, dan Magelang. Adapun korban meninggal pascaletusan Jumat dini hari pekan lalu mencapai 88 orang.

Korban terdiri atas 35 orang berkelamin lakilaki, 35 perempuan, 11 anak-anak dan balita,dan 7 lainnya belum teridentifikasi jenis kelaminnya. Secara keseluruhan, korban tewas yang sudah diketahui identitasnya mencapai 43 korban dan 45 belum diketahui. Sementara itu, 202 orang dilaporkan hilang. “Korban yang teridentifikasi sebagian sudah diambil keluarga untuk dimakamkan. Jenazah lainnya masih menunggu hasil identifikasi tim forensik RS Sardjito dan tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda DIY,”terang komandan Satlak PB Sleman Widi Sutikno. Di antara korban tewas ada yang teridentifikasi sebagai anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Korban bernama Slamet Ngatiran dan Aryatni. Selain itu,Tagana juga kehilangan kontak dengan empat anggotanya di Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saat mengevakuasi warga masyarakat di sekitar Gunung Merapi.Mereka adalah Supriyanto, Supriyadi, Samiyo, dan Suyatno. Hingga kemarin, evakuasi terhadap korban Merapi terus dilakukan. Tim SAR yang terdiri atas personel TNI, Polri, dan relawan kemarin menemukan empat jenazah korban letusan Merapi di Dusun Ngepringan, Desa Wukirsari,Kecamatan Cangkringan,Kabupaten Sleman, DIY. Jenazah tersebut ditemukan di dalam reruntuhan rumah yang roboh diterjang awan panas vulkanik Merapi.

Kondisi mereka sangat mengenaskan,sehingga susah diidentifikasi. Sementara itu, evakuasi korban tewas di Klaten gagal dilakukan tim gabungan TNI, Polri, dan tim SAR. Meski sempat berhasil menembus Desa Balarente,Kecamatan Kemalang, yang diterjang awan panas Jumat pekan lalu,evakuasi korban tewas tidak dapat dilakukan mengingat Merapi terusmenerus memuntahkan isinya. Komandan Kodim (Dandim) 0723 Klaten Letkol Gathot Tridoyo mengatakan, evakuasi dilakukan 20 anggota TNI,Polri,dan enam relawan tim SAR.Mereka nekat menyisir kawasan Desa Balerante Merapi meski belum aman. Dengan pertimbangan kemanusiaan, tim gabungan mencoba memasuki Desa Balerante dengan kewaspadaan tinggi.

“Kami tidak tega dengan keluarga korban, tim naik ke atas dengan sangat hati-hati,” kata Gathot Tridoyo kemarin. Sebenarnya tim evakuasi telah melihat jenazah korban tertimbun abu di rumahnya.Namun evakuasi gagal dilakukan karena pada saat bersamaan terdengar suara gemuruh yang sangat keras disertai awan panas. Alhasil tim langsung menyelamatkan diri mengingat Desa Balerante hanya berjarak sekitar 4 km dari puncak Merapi. Tim evakuasi memperkirakan masih ada korban lain di lokasi tersebut. Selain korban tewas, tim gabungan juga mendapati puluhan hewan ternak mati terpanggang. Di Klaten, korban Merapi kemarin bertambah dua orang.

Keduanya meninggal setelah dua hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat dr Soeradji Tirtonegoro Klaten, Jawa Tengah. Salah satu korban bernama Karso Inangun, 80, warga Dusun Gondang, Desa Balerante,Kecamatan Kemalang, Klaten, yang mengalami luka bakar hingga 80%. Untuk menembus medan berbahaya, mulai kemarin PMI menerjunkan dua Hagglunds (kendaraan segala medan).Ketua Umum PMI Jusuf Kalla meyakini kendaraan ini mampu menembus dusun-dusun yang diterjang letusan Gunung Merapi serta belum terevakuasi. Untuk mengawaki kendaraan ini,PMI merangkul Kopassus.

Dimakamkan Massal

Ribuan pelayat memadati tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Beran, Desa Margodadi,Kecamatan Seyegan, Sleman, untuk mengikuti pemakaman 77 korban letusan Merapi sore kemarin.Ke- 77 korban dikubur secara massal dalam satu liang lahat berukuran 28 x 7 meter persegi. Sebelum dimasukkan ke liang lahat, terlebih dahulu jenazah disalatkan di pelataran makam yang dipimpin Bupati Sleman Sri Purnomo. Namun jenazah tetap berada di dalam ambulans.

Suasana duka begitu menyelimuti prosesi pemakaman. Begitu ambulans yang membawa korban dari RSUP dr Sardjito Yogyakarta mulai terdengar meraung-raung dari kejauhan, salawat campur tangis keluarga para korban terdengar. Semakin lama, tangis semakin keras.Tak kuat menahan emosi, seorang ibu pingsan dan langsung dievakuasi. Iring-iringan mobil jenazah tiba di tempat TPU Beran pada pukul 18.25 WIB. Kepala Bidang Kedokteran Kepolisian Polda DIY,AKBP Agustinus, mengatakan jumlah jenazah ada 88 orang.Namun, sembilan jenazah telah diambil keluarganya sehingga yang dimakamkan secara massal berjumlah 77.Dari,jumlah ini, 35 jenazah berjenis kelamin laki-laki dewasa, 35 perempuan dewasa, 11 anak-anak, dan 7 jenazah tidak diketahui jenis kelaminnya.

“ Meskipun dimakamkan secara massal, tiap jenazah tetap diberi nisan sehingga nanti apabila berhasil diidentifikasi melalui DNA yang kami simpan dan ada keluarga mencari akan bisa diidentifikasi,” jelasnya. (ridwan anshori/ priyo setyawan/mn latief/ ary wahyu wibowo/ant)



Posted by Wawan Kurniawan on 23.23. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels