|

Kubah Lava 2006 Runtuh

YOGYAKARTA(SINDO) – Gunung Merapi kembali meletus.Letusan eksplosif yang terjadi sekitar pukul 10.00 WIB kemarin diikuti dengan semburan awan panas atau wedhus gembelsetinggi 1,5 km yang menuju arah timur, yakni Boyolali. Awan panas juga meluncur sejauh 4 km mengarah ke selatan atau Kali Gendol di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Selama kurang dari 2 jam,tercatat Merapi 7 kali mengalami erupsi, yaitu mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 11.45 WIB,dengan durasi letusan antara 2 hingga 3 menit setiap kali letusan. Letusan pertama terjadi pada pukul 10.00 WIB hingga 10.02 WIB dan diakhiri letusan ketujuh yang terjadi pada pukul 11.45 WIB hingga 11.47 WIB.Letusan terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului tandatanda awal seperti gempa vulkanik dan suara gemuruh, hingga menimbulkan kepanikan warga.

Kepala BPPTK Yogyakarta Subandriyo menjelaskan, letusan yang terjadi tanpa didahului gempa vulkanik, tapi langsung terjadi letusan vertikal yang mengeluarkan material guguran lava dan semburan awan panas menandakan bahwa kubah lava Merapi yang terbentuk pada tahun 2006 lalu sudah runtuh. Sistem gunung Merapi pun menjadi terbuka. Walaupun sistem Merapi sudah terbuka, gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah-DIY itu masih mengancam karena lava pijar belum keluar.

Menurut Subandriyo, munculnya lava selalu mendesak kubah lava yang sudah ada. Potensi kubah yang longsor adalah kubah yang paling lapuk atau biasanya yang sudah mengalami altrasi yang lama. “Nah, potensi longsoran itu adalah kubah atau bebatuan yang paling tua,”imbuhnya. Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar membenarkan bahwa dengan runtuhnya kubah lava tersebut, untuk letusan Merapi selanjutnya juga dipastikan tidak lagi diawali dengan gempa atau guncangan lain.

Sebab, dengan terbukanya sistem di Gunung Merapi, suplai magma dari bawah akan terdorong keluar dengan bebas dan saat erupsi sudah tidak ada penghalang magma untuk keluar. “Ini sesuatu yang baru. Tidak ada gempa vulkanik. Magma bisa bebas bergerak sehingga terjadi letusan eksplosif,” jelas Sukhyar, di Yogyakarta kemarin. Dia menambahkan,runtuhnya kubah lava letusan 2006 akan mengakibatkan kubah tahun 1911 menjadi terkikis.

Kondisi ini, lanjutnya, bisa mengakibatkan longsor dan jika kembali terjadi letusan vertikal, awan panas akan mengarah ke mana-mana. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM Surono menilai erupsi Merapi kali ini berbeda dengan kejadian sebelumnya. Disebutkan, jika pada status siaga masyarakat biasanya melihat kubah lava dan titik api diam, untuk kali ini hal tersebut tidak ada.

Begitu pun energinya, mencapai 3 kali lipat dibandingkan letusan tahun 1997,2001,dan 2006. Dengan fakta tersebut, Surono mengingatkan masyarakat agar masyarakat menggunakan pedoman scientific, bukan menggunakan pedoman lama yang biasa digunakan. “Sebab proses alam itu bersangkutan dengan masa kini, bukan masa lampau. Dengan kondisi tersebut, kami tetap meminta masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) untuk tetap tinggal di barak pengungsian atau pada radius titik aman,yaitu 10 km dari puncak Merapi,”katanya.

Melihat perkembangan Merapi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini membatalkan jamuan makan malam kenegaraan bersama PM Australia Julian Gillard. Saat membuka sidang kabinet paripurna, Presiden menyatakan akan langsung berkunjung ke Yogyakarta setelah menerima PM Gillard di Istana Merdeka atau pada pukul 14.00 WIB. Menurut jadwal, Presiden dan rombongan akan menuju Yogyakarta melalui Bandara Ahmad Yani, Semarang.

Dari Semarang Presiden akan melakukan perjalanan darat menuju Istana Yogyakarta, tempat rombongan menginap. Presiden mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. “Kedua gubernur langsung memimpin langkah tanggap darurat dari letusan Merapi itu. Saya instruksikan untuk berupaya sekuat tenaga menyelamatkan saudara-saudara yang ada di sekitar Merapi tersebut,”ujarnya.

Warga Panik

Letusan kemarin mengakibatkan sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Boyolali yang berada di sisi timur Gunung Merapi diguyur hujan abu dan pasir. Hujan material vulkanik ini terjadi selama sekitar 1 jam. Daerah yang diguyur hujan abu dan pasir adalah wilayah Kecamatan Cepogo,Musuk,dan sebagian wilayah Boyolali Kota.Kejadian alam ini membuat ribuan warga panik dan langsung menuju ke sejumlah tempat pengungsian. Kepanikan juga terjadi di sejumlah kawasan KRB III yang berada di Klaten, Magelang, dan Yogyakarta.

Di Yogyakarta,kepanikan akibat letusan membuat Jalan Kaliurang Km 20 atau dekat dengan barak Hargobinangun pun macet oleh kendaraan dan lalu lalang warga yang panik dan melarikan diri. Petugas kesulitan untuk mengatur jalur lalu lintas yang dipadati kepanikan warga. Jalan pun hanya bisa dilalui satu jalur, yakni ke selatan.Warga yang ingin ke utara dilarang petugas.“Merapi meletus lagi,awas awan panas,ayo turun, ayo turun,” teriak para pengendara yang ingin segera mencari tempat aman.

Tim SAR pun berkali-kali menenangkan warga melalui pengeras suara. “Warga jangan panik. Secara visual dapat diamati awan panas mengarah ke timur. Jadi yang ada di sini insya Allah aman. Semua jangan panik,” teriak petugas SAR. Hal serupa juga terjadi di barakbarak pengungsian lainnya seperti di barak Wukirsari, Cangkringan. Dalam kepanikan tersebut ada dua pengungsi yang jatuh pingsan.Mereka adalah Kartini dan Murjinem, warga Desa Umbulharjo. (priyo setyawan/ary wahyu wibowo/ridwan anshori/ m abduh/rarasati syarief)


Posted by Wawan Kurniawan on 06.15. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels