|

Pasar Komputer DIY Mulai Lesu

YOGYAKARTA(SINDO) – Pangsa pasar komputer di Yogyakarta mulai lesu.Ini dipicu oleh outlet-outlet komputer,khususnya dari Jawa Tengah tidak lagi memasok barang dari distributor di DIY,tapi langsung mengambil ke Jakarta.

Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) DIY Hadi Santono mengatakan, penjualan komputer di pasar DIY dari sisi omzet sebenarnya tergolong tinggi. Sayangnya, perkembangan dari tahun ke tahun relatif stagnan. Kondisi ini dipengaruhi tingkat order dari berbagai daerah yang tadinya melalui distributor di Yogyakarta, kini beralih ke Jakarta.

”Daerah-daerah luar DIY seperti Purwokerto, Banyumas, Purworejo, dan lainnya dulu mengambil komputer di DIY.Seiring pertumbuhan penjualan komputer di daerah, mereka justru mengambil produk komputasi langsung ke Jakarta,” paparnya kemarin. Saat ini penjualan komputer di DIY menduduki posisi ketiga secara nasional dengan persentase sebesar 12% dari total perkiraan 4,64 juta unit.

Posisi pertama ditempati Jakarta dan disusul Surabaya. Untuk pertumbuhan penjualan, pada 2010 mampu mencapai angka 32%.”Selama dua tahun terakhir pertumbuhan penjualan komputer sekitar 32%. Untuk target 2011 diperkirakan hanya 30%,” kata Hadi. Untuk produk yang diminati, komputer jinjing alias laptop masih menjadi primadona dengan persentase penjualan 66%,disusul komputer desktop dan server 1%. Salah satu faktor pendorong peningkatan transaksi,selain tren jejaring pertemanan juga maraknya hot spot gratis,khususnya di kawasan perkotaan. ”Dibanding kotakota lain, penjualan komputer jinjing di Yogyakarta terbilang sangat tinggi,”ucapnya.

Pemblokiran Situs Pornografi

Masihterkaitdengankomputasi, Asosiasi Pengusaha Warnet Indonesia (Awari) menyatakan dukungannya terhadap program pemblokiran situs-situs pornografi.Sebagai bentuk dukungan, seluruh anggota yang tergabung dalam Awari Yogyakarta,wajib membentengi perangkatnya denganDomainNumber System (DNS) Nawala. Ketua Awari Yogyakarta Andri Suhendri menerangkan, DNS Nawalamerupakanlayanangratisyang bebasdigunakanpenggunainternet untuk menyaring konten negatif dan porno.

Cara menggunakan fasilitas tersebut cukup mudah, yakni melakukan pengubahan konfigurasi IP DNS komputer ke alamat IP 180.131.144.144 (primary) dan 180.131.145.145 (secondary). ”Kami mendukung Gerakan Internet Sehat terutama dengan DNS Nawala.Perangkat ini sebagai filter yang terbukti ampuh memblokir situs-situs pornografi.DNS Nawala juga dapat digunakan siapa saja karena bebas biaya dengan mengganti setting DNS di komputer ke alamat protokol internet DNS Nawala,”papar Andri kemarin.

Selain menggunakan perangkat DNS Nawala, filter pornografi juga dapat dilakukan menggunakan DNS Merapi.Hanya,penggunaan filter yang satu ini hanya terbatas bagi pengguna internet di wilayah Yogyakarta.Sebab,setiap pengguna diharuskan ter-connect ke internet service provider (ISP).”Mayoritas anggota Awari menggunakan DNS Nawala karena bisa digunakan di manapun,”ungkapnya.

Pemberlakuan filter pornografi tidak sepenuhnya dapat memblokir situs-situs berbau porno.Andri beralasan, masih banyak pengguna warnet yang berupaya mencari celah agar dapat mengakses pornografi. Terhadap kasus seperti ini, pengusaha warnet tidak bisa bersikapkaku karena berisiko pada kepercayaan pelanggan. ”Yang bisa dilakukan adalah memberikan teguran jika ada pengguna di bawah umur yang tetap memaksa membuka situs pornografi,” pungkasnya. (arif budianto)



Posted by Wawan Kurniawan on 06.59. Filed under , , , , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels

Recently Added

Recently Commented