|

Solo-Yogya Mulai Terintegrasi

(SINDO) – Integrasi sistem tiket terpadu antarmoda transportasi antara Solo danYogyakarta mulai dirintis.Sistem ini diharapkan mampu memanjakan pengguna angkutan umum dan menekan pertumbuhan kendaraan pribadi.

Cara kerja tiket berlangganan tersebut menyerupai penggunaan pulsa pada telepon genggam. Tiket secara otomatis akan berkurang nilainya ketika diperlihatkan pada mesin pendeteksi tiket.Tiket transportasi tersebut dijual dalam dua model, sekali jalan dan berlangganan. Untuk tiket sekali jalan,di Solo dijual seharga Rp3.000 dan hanya untuk mengakses Bus Rapid Transit (BRT) Batik Solo Trans (BST).

Sementara untuk kartu berlangganan, pembeli kartu harus mengisi saldo pada kartunya lebih dahulu dengan nominal tertentu sebelum menggunakannya. Di Solo, pengisian saldo dapat dilakukan di shelter maupun BST. Pemegang kartu ini bisa mengakses tiga moda transportasi, yakni BST,kereta Prambanan Ekpres (Prameks) Solo–Yogyakarta PP, maupun bus Transjogja tanpa harus membeli tiket lagi.

Sekali menggunakan salah satu moda angkutan itu, saldo dalam kartu akan terpotong sesuai tarif yang berlaku.Jika sisa saldo dalam kartu masih mencukupi untuk membayar ongkos moda transportasi lainnya, bisa langsung digunakan dan akan kembali terpotong. Apabila saldo sudah tidak mencukupi, pemegang kartu harus melakukan pengisian saldo lagi sebelum menggunakan kartunya.

Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Pemprov DIY Tjipto Haribowo dan Wali Kota Solo Joko Widodo. Direktur Komersial PT Kereta Api Indonesia Sulistyo Wimbo Hardjito, serta Direktur Konsumer dan Ritel BNI Darmadi Sutanto juga turut membubuhkan tanda tangan disaksikan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Bambang Susantono mengapresiasi dimulainya kerjasama integrasi sistem tiket tiga moda transportasiantara Kota Solo dengan Kota Yogyakarta tersebut. Setelah penandatanganan MoU, realisasi bisa segera dilakukan. Rencananya,program ini dilaksanakan mulai akhir Februari.”Masyarakat tidak akan puas hanya sekedar penandatanganan MoU. Saya tunggu realisasinya bulan depan,”tandasnya.

Dia yakin tidak ada yang sulit untuk mewujudkan apa yang telah ditandatangani dalam MoU itu asalkan ada kepemimpinan dan kerja sama yang baik antarpihak terkait. ”Tidak ada yang sulit, kecuali kalau memikirkan ego masing- masing,”ujarnya. Integrasi sistem tiket ini merupakan pertama di Indonesia. Integrasi ini diharapkan mampu memberikan nilai lebih bagi pengguna angkutan umum.

Jika tidak, masyarakat tetap akan memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi publik. Joko Widodo mengungkapkan, integrasi moda transportasi ini akan membawa keuntungan bagi Solo, terutama dalam hal pengembangan pariwisata.Selama ini pariwisata di Yogyakarta lebih maju ketimbang Solo. Dengan adanya kemudahan transportasi publik ini, pariwisata Solo diharapkan ikut terdongkrak.

”Ke depan,mengembangkan pariwisata tidak bisa lagi sendiri-sendiri,harus ada destinasi bekerja sama daerah lain,” paparnya. Sementara itu,Tjipto Haribowo menuturkan kerja sama ini akan memberikan dampak bagi pertumbuhan perekonomian di Yogyakarta. ”Dampaknya, pergerakan penumpang akan menjadi lebih dinamis dan ujung-ujungnya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi masyarakat,”ungkapnya.

Benahi Transportasi Perkotaan

Karut-marut masalah lalu lintas di Indonesia memerlukan adanya upaya keras dari tiap pemerintah daerah dalam membenahinya. Kementerian Perhubungan meminta agar tahun ini masing-masing pemerintah daerah melakukan penanganan, di antaranya lewat pembenahan transportasi perkotaan. Menurut Bambang Susantono, persoalan kemacetan lalu lintas telah menjadi problem bersama sehingga permintaan ditujukan bagi semua daerah.Kesemrawutan di jalan erat kaitannya dengan makin banyaknya kendaraan pribadi dan terpuruknya angkutan umum.

”Perlu dilakukan pembenahan transportasi perkotaan,” ucapnya. Transportasi perkotaan harus bisa memberikan kenyamanan bagi penggunanya. ”Harus ada nilai lebih, kalau tidak, masyarakat akan memilih menggunakan kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor.Kepada semua daerah saya tekankan seperti itu,”tandas Bambang. Bambang menjelaskan, membenahi transportasi perkotaan tidak perlu menghitung finansial yang harus dikeluarkan atau yang bakal didapat.

”Bukan kokini nanti cucuk opo ora, rugi ora (menguntungkan atau tidak, rugi atau tidak). Tapi, pembenahan transportasi perkotaan harus dilihat dari dampak terhadap ekonomi kota.Di luar negeri, kita bisa melihat apakah sebuah kota itu layak huni atau tidak dari transportasi perkotaannya,” ungkapnya. Pemerintah melakukan beberapa langkah untuk pembenahan transportasi perkotaan,yakni yang bersifat pull policy dan push policy. Upaya berkaitan dengan langkah pertama, yakni meningkatkan daya tarik angkutan umum.

Langkah kedua, dengan mendorong kepedulian para pengguna kendaraan pribadi. ”Transportasi publik harus bisa lebih memanjakan penggunanya.Kalau tidak,ya jumlah kendaraan pribadi termasuk sepeda motor akan terus bertambah,” paparnya. Ada tiga integrasi yang bisa dilakukan demi mewujudkan angkutan umum yang lebih menarik, yakni integrasi fisik untuk memberikan kenyamanan, integrasi jadwal supaya pengguna angkutan umum bisa memperhitungkan waktu perjalanan yang dibutuhkan, dan integrasi ticketing system agar memudahkan masyarakat mengakses berbagai moda transportasi publik. (fefy dwi haryanto)


Posted by Wawan Kurniawan on 18.15. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels