|

HUT ke-66 Yogyakarta Ibu Kota NKRI- Bentangkan Bendera 66 Meter

YOGYAKARTA – Sejumlah elemen yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY kemarin menggelar peringatan 66 tahun Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia.

Acara yang dikemas dalam kirab budaya ini menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang tengah berkunjung. Kirab budaya dilaksanakan dari Gedung DPRD DIY menuju ke Gedung Agung.Selama kirab, Jalan Malioboro dan Ahmad Yani ditutup total. Rombongan kirab diawali dengan cucuk lampah Bregodo Ngeksigondo Kuthogede Mataram. Lalu disusul barisan paskibraka, barisan bendera Keraton, mobil kepresidenan yang dinaiki aktor pemeran Soekarno dan Hatta serta jeep perang, dan kontingen peserta kirab lain.

“Kirab budaya ini untuk mengenang pindahnya ibu kota RI dari Jakarta ke Yogyakarta 66 tahun lalu,”kata Ketua Sekber Kesitimewaan DIY,Widihasto Swasana Putro. Menurutnya, kepindahan ini perlu diperingati sebagai bagian dari sejarah bangsa. Hal ini harus terus digelorakan agar semangat nasionalisme tidak luntur.Apalagi situasi negara ini sedang tidak menentu, termasuk pembahasan atas nasib Keistimewaan DIY.

Widihasto mengingatkan, setelah Indonesia merdeka suasana Jakarta cukup mencekam. Kedatangan sekutu yang diboncengi Nica, memancing kontak senjata. Apalagi Nica juga berniat membunuh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Saat itulah Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX mengirim kurir ke Jakarta agar pemerintahan dipindah ke Yogyakarta. Dengan kereta api yang dirahasiakan, para pemimpin bangsa ini pindah ke Yogyakarta. Sri Sultan sendiri lahyang menjemput presiden di Stasiun Tugu.

Yogyakarta sebagai ibu kota, kata hasto,dimulai pada 4 Januari 1945 sampai dengan 28 desember 1949.“Saat itulah Sultan dan Pakualambersamarakyat Yogyakarta ikut terlibat dalam mempertahankanNKRI,” jelasnya. Selain untuk memperingati sejarah, kirab juga bertujuan untuk penghayatan semangat perjuangan para pahlawan demi tegaknya Pancasila dan NKRI. Di samping itu juga sebagai upaya revitalisasi nilainilai persatuan dan kesatuan bangsa, memupuk semangat kebangsaan, patriotisme, dan cinta tanah air.

“Khusus status Keistimewaan DIY, penyelesainnya masih diombang-ambingkanpusatdan Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri),”katanya. Pada peringatan kemarin,juga diwarnai ikrar bersama rakyat DIY. Sebelum bubar, di Gedung Agung sempat dibentangkan bendera Merah Putih sepanjang 66 meter sebagai penanda waktu bahwa Yogyakarta pernah menjadi ibu kota NKRI.

Aktivis Sekber Keistimewaan DIY, Hendro Pleret mengatakan, penetapan pasangan Sultan dan Pakualam sebagai gubernur dan wagub sudah sesuai dengan sejarah bangsa.Hal ini harus dipegang teguh dan disesuaikan dengan undangundang yang ada.“Penetapan pasangan ini sudah sesuai amanat undang-undang,”jelasnya. kuntadi Sumber : Seputar Indonesia

Posted by Wawan Kurniawan on 11.16. Filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels