|

Tak Bermoral : Oknum Guru SD Sodomi Murid

BANTUL – Biadab. Kata itu mungkin tepat untuk menggambarkan perbuatan Tumijo, 48, oknum guru SD N Dodokan II, Jatimulyo, Dlingo, Bantul ini.

Guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) ini tega menyodomi dua muridnya. Kasus memalukan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang pendidik ini terbongkar Jumat (23/3) sore. Salah seorang wali murid mencurigai adanya cupangan di leher anaknya berinisial AS, 11, yang masih duduk di bangku kelas VI SD.

Selain cupangan yang masih membekas, kemaluan korban juga membengkak. Setelah mendapatkan pengakuan bahwa apa yang menimpa korban merupakan ulah dari gurunya,orang tua korban sontak menjadi geram. Pengakuan korban itu kemudian langsung menyebar ke warga Warga yang geram dengan aksi pelaku menghajarnya habis-habisan.Warga juga melampiaskan kemarahannya dengan membakar motor Honda Vario yang menjadi tunggangan guru asal Dusun Klepu,Temuwuh Dlingo itu.

Guna mengantisipasi amukan warga yang lebih banyak, hingga kemarin oknum guru itu masih diamankan di Polsek Dlingo. Ketua Karang Taruna Dusun Loputih,Jatimulyo,Dlingo, Tanggono mengatakan, pada mulanya korban sempat menutupi perbuatan cabul yang pernah dilakukan pelaku, sekaligus wali kelasnya itu. Setelah didesak, korban mau mengatakan apa yang dialaminya. “Mungkin korban itu takut karena mendapatkan ancaman, apakah korban pernah disodomi atau tidak juga belum bisa dipastikan,” katanya kepada wartawan kemarin.

Kabar mengenai perbuatan tak senonoh yang dilakukan oknum guru itu membuat warga emosi.Emosi warga semakin meluap setelah paman korban mendapati pesan singkat bernada mesra dari pelaku di ponsel korban. Dari pengakuan korban dan bukti-bukti yang ditemukan, warga lantas melakukan pertemuan dengan para tokoh desa untuk menyelesaikan persoalan itu. Kepala Dukuh Loputih, Ngaderi menambahkan,dalam pertemuan yang bertempat di rumah mantan Lurah Desa Jatimulyo, Jumat petang,juga turut diundang perwakilan dari SD N Dodogan II serta Dewan Sekolah.

Saat pertemuan dilakukan, pelaku diketahui masih memberikan les untuk menyiapkan ujian nasional kepada seluruh murid kelas VI di sekolah.“ Saat masih memberikan les itu, puluhan massa sudah berkerumun di sekolah untuk menjemput pelaku,”ucapnya. Ngaderi yang saat itu datang ke sekolah dapat meredam emosi warga.Namun, saat dia meninggalkan sekolah karena terus dihubungi warga untuk segera memulai pertemuan, warga yang sudah naik pitam sontak berhamburan menghajar pelaku untuk kemudian dibawa ke lokasi pertemuan.

“Dalam pertemuan itu,pelaku terus mengelak dari tuduhan, tapi setelah didesak serta ditunjukkan bukti foto bekas cupang di leher korban, pelaku akhirnya mengaku telah berbuat tidak senonoh kepada korban selama beberapa bulan,”papar Ngaderi. Didepanwarga,pelaku mengakui telah berbuat serupa kepada salah satu mantan muridnya yang lain berinisial S, 14,warga Dusun Loputih yang kini telah duduk di bangku SMP kelas 1. Kuat dugaan korban aksi bejat pelakutidakhanya duaorangtersebut.

Namun sejauh ini pelaku hanya mengaku korbannya dua orang. Untuk mengantisipasi amukanwargakembaliterulang, kejadian itu langsung dilaporkan ke Polsek Dlingo. Kasatreskrim Polres Bantul AKP Alaal Prasetya dikonfirmasi secara terpisah membenarkan adanya laporan kasus sodomi yang dilakukan oleh oknum guru itu. Dia mengatakan oknum guru yang diadukan warga itu, juga telah diamankan di Polsek Dlingo.“Korban yang melapor baru satu, tersangka juga telah diamankan di Polsek, dalam kasus ini kita ikut mem-back-up, nanti petugas dari kita (PPA Polres Bantul) juga akan meminta keterangan dari korban,”katanya.

Dikonfirmasi adanya kasus itu,Inspektur Inspektorat Bantul Subandrio mengatakan inspektorat perlu melakukan pengecekan untuk meminta klarifikasi dengan guru yang bersangkutan dan dari saksisaksi. Karena statusnya sebagai guru, untuk melakukan pengecekan akan dilakukan bersama instansi terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan. “Kita akan lapor dulu ke bupati untuk melakukan pengecekan. Kalau terbukti, yang bersangkutan dapat dihentikan sebagai pegawai,”tandasnya.

Psikolog dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Paulus Eddy Suhartanto berpendapat, perilaku sodomi merupakan tindakan abnormal yang bisa dilakukan karena pelaku merasa memiliki kekurangan yang tidak bisa disalurkan kepada yang normal.Perasan itu kemudian mendorong pelaku mencari pelarian sebagai objek pelampiasan kepada orang yang lebih rendah,dalam hal ini anak-anak yang berada di bawah otoritasnya.

“Anakanak itu kan kemungkinan dirasakan bisa nurut dan bisa dikuasai sehingga dijadikan pelaku sebagai pelampiasan,”paparnya. muji barnugroho/ suharjono

Posted by Wawan Kurniawan on 15.12. Filed under , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

Blog Archive

Labels