Demo BHP Berakhir Ricuh - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Sunday, 21 December 2008

Demo BHP Berakhir Ricuh

HARIAN JOGJA: Aksi demo menuntut dicabutnya Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang dilakukan massa dari Front Mahasiswa Nasional (FMN) cabang Jogja berakhir ricuh. Terjadi aksi dorong-dorongan dan perang batu antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Akibatnya, empat anggota polisi dan seorang peserta demo mengalami luka.

Tidak hanya itu, empat orang wartawan masing-masing Ferganata Indra Riatmoko (Kompas), Juli Nugroho (Suara Merdeka) mengalami luka pada kepala. Sedangkan Novan Jemmi Andrea (Seputar Indonesia), dan Gatot Tripintoko (TV7) mengalami luka lebam kena lemparan batu.

Bahkan kamera yang digunakan Novan mengalami kerusakan parah akibat kena batu. Aksi demo sendiri berlangsung mulai pukul 11.00 WIB. Massa yang datang dari UIN memblokir jalan pertigaan Jalan Solo. Selain itu mereka juga membakar ban di tengah jalan.
Akibatnya arus kendaraan mengalami kemacetan akibat aksi itu. Koordinator umum FMN Dedy Deta, mengungkapkan aksi tersebut dilakukan untuk menolak pengesahan UU BHP yang mengkormesialisasikan pendidikan. “Kami akan terus melakukan aksi ini, karena ini merupakan perjuangan kami demi masyarakat Indonesia,” katanya.
Massa sempat bersitegang dengan pihak aparat, karena dibubarkan secara paksa, seorang mahasiswi peserta demo sempat pingsan dalam aksi tersebut. Dengan dikawal polisi, massa masuk ke kampus UIN dan sempat terjadi lempar-lemparan batu.
Setelah sempat berhenti beberapa saat, aksi kembali beraksi dan memanas hingga keributan tidak dapat dihindarkan. Massa kembali turun ke jalan dan membakar ban. Setelah sekitar 15 menit menutupi badan jalan, akhirnya massa dibubarkan secara paksa oleh polisi. Dua peleton Samapata Polres, satu peleton Polda dan dari Brimob dikerahkan untuk mengamankan aksi. Dikerahkan juga satu mobil water cannon.
Aksi lempar batu baru mereda saat PR II I UIN, Maragustam Siregar meminta mereka untuk berunding agar suasana tidak memanas. “Dalam aksi semua peserta bukan mahasiswa UIN. Ini terbukti saat kami meminta mereka menunjukkan kartu tanda mahasiswa (KTM) dalam perundingan tadi,” katanya se usai melakukan perundingan dengan peserta.
Menurut Mara, aksi protes ini tidak diketahui oleh pihak kampus karena kampus libur.
Selama kurang lebih dua jam kedua kubu melakukan negosiasi. Pihak peserta aksi diwakili Koordinator Umum FMN Deddy Deta sedangkan pihak kepolisian diwakili Wakapolres Sleman, Kompol Noffan Widyoyoko.
Perundingan itu sempat tegang karena peserta aksi menuntut barang yang disita petugas dikembalikan. “Kita menuruti permintaan mereka untuk menarik semua personel dari sini, barulah mereka membubarkan diri. Kami berjanji bahwa dalam pembubaran itu, petugas kami tidak akan melakukan tindakan yang di luar kewenangan. Saya sebagai penjaminnya,” kata Wakapolres.
Tepat pukul 17.45 WIB peserta aksi yang bertahan di dalam membubarkan diri dan kepolisian tidak melakukan penahanan.
Kapolda DIY, Brigjen Untung Suharsono Radjab yang datang seusai aksi mengatakan pihaknya tidak akan pernah melarang aksi dari mahasiswa. “Namun jika memang aksi itu membahayakan kepentingan dan masyarakat umum, kita akan melakukan tindakan tegas. Saya anggap ini hanya pemanasan,” ujarnya.

Oleh Kukuh Setyono & Prihati Puji Utami

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)