Pedagang Minyak Tanah Oplosan Berkeliaran - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Wednesday, 17 December 2008

Pedagang Minyak Tanah Oplosan Berkeliaran

SLEMAN: Kelangkaan minyak tanah serta menghilangnya gas elpiji ukuran 3 kilogram dari pasaran membuat rakyat miskin semakin terjepit. Kondisi ini semakin diperparah dengan ulah nakal sejumlah pengecer minyak yang nekat mencampur minyak tanah dengan air.
Di Sleman, selama beberapa pekan terakhir, muncul praktik pengoplosan minyak tanah yang dicampur dengan air. Tindakan kotor yang sangat merugikan konsumen ini dilakukan oleh sejumlah pedagang minyak tanah liar yang berjualan secara kelilingan. Mereka memanfaatkan terjadinya kelangkaan minyak tanah dengan melakukan tindakan curang, menipu masyarakat demi keuntungan pribadi.

Menurut Ny Sukar Mudarto (72), agen minyak tanah yang tetap memilih membeli dari distributor resmi dari Pertamina, praktik penjualan minyak tanah oplosan dengan harga murah memang terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Bahkan ia juga mengaku sempat ditawari oleh pedagang keliling itu agar ia membeli. Beruntung, meski dagangan minyak tanah seharga Rp7.000 per liter yang ia jual jarang dibeli oleh warga karena harganya yang sangat mahal, ia tak tertarik dan ikut-ikutan membeli dan menjual kembali minyak tanah oplosan itu.
“Saya kasihan dengan warga yang membeli nantinya. Jika tahu minyak tanah itu dioplos dengan air, tentu mereka akan jera untuk membeli. Kalau sudah begitu, tentu yang rugi kita juga to,”ujarnya.
Saat ini ia berharap agar pemerintah segera membuka kembali distribusi minyak tanah, sehingga masyarakat bisa degan mudah mendapatkan mintak tanah, tentu saja dengan harga yang murah. “Saat ini pelanggan minyak tanah yang biasa membeli di warung saya mulai berkurang. Hal ini terjadi karena harga eceran minyak tanah telah mencapai Rp8.000 per liter,”imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ny Sunarti (55), seorang pengecer minyak tanah asal Godean, Sleman. Ia mengungkapkan bahwa selama 3 bulan ini ia lebih memilih untuk menutup drum-drum minyak tanah miliknya dengan plastik, karena pasokan minyak dari distributor tak juga datang. “Saya ini heran kenapa di Jogja tidak seperti daerah-daerah lainnya yang masih memperoleh pasokan minyak bersubsidi. Akibat kelangkaan yang terjadi, banyak terjadi penyimpangan. Kelangkaan minyak menjadi peluang bagi para pengecer nakal dari wilayah lain untuk beroperasi di sini. Sayangnya, tindakan mereka yang terkadang nekat mengoplos minyak tanah dengan air sangat merugikan masyarakat,” ujarnya dengan nada penuh kekecewaan.

Oleh Rina Wijayanti

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)