Penjualan Kembang Api Kian Sepi - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Thursday, 1 January 2009

Penjualan Kembang Api Kian Sepi

HARIAN JOGJA: Pedagang kembang api mengeluhkan sepinya pembeli menjelang pesta Tahun Baru 2009. Kondisi ini juga sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Wisnu (44) pedagang kembang api di kawasan Jalan Kusumanegara Yogyakarta mengaku tidak terlalu banyak menyetok kembang api. “Paling sama saja, akan tetap sepi pembeli seperti tahun kemarin, jadi saya tidak terlalu banyak menyetok barang,” ujar Wisnu kepada Harian Jogja, Selasa (30/12).

Wisnu berdagang dengan membuka toko kelontong, selain kembang api, juga menjual kebutuhan sehari-hari. Kembang api yang dijualnya mulai dari kembang api kawat, air mancur, dan bola-bola. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp100 hingga di atas Rp40.000. “Tergantung juga dari kelasnya, ada yang untuk anak-anak dan juga orang dewasa,” ujarnya.

Sepinya pembeli juga dirasakan oleh Hoo Win Tjen (67), pedagang kembang api di Toko Delapan di kawasan Jalan Pajeksan. “Mungkin sekarang sudah tidak musim kembang api, karena harga-harga kebutuhan banyak yang meningkat dan pedagang kecil seperti kami terkena imbasnya,” ujar Hoo Win Tjen.

Sehari-harinya, Ia berjualan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Hanya pada even-even tertentu seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru berjualan khusus kembang api. Selain itu juga menyediakan berbagai kebutuhan dan perlengkapan sembahyanng seperti dupa, hio, lilin dan aromatherapy. Pernah juga berjualan petasan dan mercon, hanya saja karena ada larangan dari pemerintah, maka sudah tidak berdagang barang jenis tersebut.

Hoo Win Tjen dalam ekonomi yang serba sulit memang menjadikan dunia usaha sangat terganggu. “Sekarang mau jualan apapun mesti mikir lagi, laku atau tidak, risiko jauh lebih besar,” katanya.

Ia juga menambahkan kondisi yang berbeda pula dirasakan di lingkungannya, dulu kawasan pecinan sangat ramai. Jalan Pajeksan pernah menjadi pasar, dan sangat ramai, orang masih berbelanja di pasar-pasar tradisional. Sekarang dengan munculnya pasar-pasar modern seperti mal dan supermarket, membuat pedagang kecil menjadi semakin tergeser. “Pokoknya sekarang serba susah. Yang punya modal besar dia yang akan menang,” keluhnya.

Oleh Theresia T. Andayani

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)