Rabu, 17 Juni 2009

YOGYA (KR) - Kejanggalan terhadap hasil ujian nasional (Unas) yang sempat dikeluhkan oleh sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di DIY. Akhirnya terjawab setelah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY melakukan koordinasi dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Dalam koordinasi (penyelidikan) tersebut ditemukan adanya kesalahan penggunaan kunci jawaban sehingga menyebabkan siswa jurusan Nautika Kapal Ikan di Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul tidak lulus.
"Kejanggalan ini sebetulnya sudah terlihat dalam statistik kelulusan. Persoalan ini semakin mencuat setelah siswa SMK Tanjungsari Gunungkidul, SMK Temon Kulonprogo dan SMK Sanden Bantul mempertanyakan persentase kelulusan mereka," kata Ketua Penyelenggara Unas 2009, Drs K Basara Aji pada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (17/6).

Baskara Aji mengatakan, dalam protes tersebut siswa di 3 SMK tersebut sempat mempertanyakan nilai Unas yang dinilai tidak wajar. Untuk mengatasi persoalan itu akhirnya BSNP dan stakeholder terkait sepakat melakukan penyelidikan, sampai akhirnya memutuskan adanya revisi. Revisi terhadap keputusan ketidaklulusan sudah disampaikan ke 3 SMK tersebut. Dengan adanya revisi tersebut secara otomatis keputusan tentang kelulusan sebelumnya tidak dipakai (dibatalkan).
"Kami sudah menyampaikan revisi tersebut di 3 SMK yang kelulusannya dianggap janggal. Dari sekitar 150 siswa yang direvisi, hanya sebagian kecil yang tidak lulus," ungkapnya. (Ria)-f
, seraya menambahkan, kesimpulan itu semakin diperkuat olej Propinsi lain yang menemukan persoalan serupa.
Lebih lanjut Baskara Aji menambahkan, sosialisasi tentang ujian teori kompetensi yang cukup mendadak tidak hanya merepotkan siswa, tapi juga menjadikan persiapan yang dilakukan Dikpora kurang optimal. Supaya kasus serupa tidak terulang lagi, pihaknya berharap agar di tahun-tahun mendatang sosialisasi sudah dilakukan sejak awal tahun ajaran. Dengan adanya sosialisasi lebih awal pihaknya berharap, beban siswa jadi lebih ringan.
"Akibat kesiapan penyelenggaraan yang mepet, guru dan murid tergesa-gesa," ujarnya.
(Ria)


EmoticonEmoticon