Merti Bumi Telan Rp15 juta - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Pasang Iklan Banner 790x90
Harga Rp. 100.000,-/Bulan

Breaking

Home Top Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Post Top Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Sunday, 26 July 2009

Merti Bumi Telan Rp15 juta

HARIAN JOGJA - KALASAN: Meski menelan dana yang tak sedikit, warga Dusun Ngajeg, Tirtomartani, Kalasan, Sleman berencana menjadikan kegiatan bersih desa atau yang biasa disebut Merti Bumi, sebagai agenda tahunan.

Tahun ini Merti Bumi di Dusun Ngajeg menelan biaya Rp15 juta lebih. Biaya itu untuk pembuatan jodang yang membutuhkan dana sekitar Rp1,5 juta – Rp2 juta per satu jodang.

Juga untuk biaya pembuatan tumpeng, menyewa kostum, dan akomodasi lainnya. Namun warga Dusun Ngajeg tidak keberatan untuk memberikan iuran sukarela demi terwujudnya upacara adat
tersebut.

Merti Bumi digelar Sabtu (25/7) lalu. Acara dimulai dengan arak-arakan lima buah jodang yang berisikan hasil bumi. Masing-masing diarak oleh empat orang bregodo diikuti oleh
50 pembawa tumpeng yang diantaranya bersisikan nasi, lauk pauk dan makanan tradisional setempat.

Kirab dilakukan mengelilingi Dusun Ngajeg dan dimulai dari rumah kepala dusun. ”Selain gunungan para prajurit juga mengarak empat buah keris pusaka yang menjadi cikal bakal terbentuknya Dusun,” kata Sugeng Mustofa, Kepala Dusun Ngajeg, pada Harian Jogja, Sabtu (25/7).

Empat keris pusaka itu adalah keris lanang dan wadon yakni Kyai Guntur Sakti dan Nyai Ageng Langgeng serta keris Kyai Guntu Gati dan Nyai Ageng Jagih. Selain itu juga diarak gunungan yang terbesar setinggi 2 meter, yakni Gunungan Karanghayon.

Isinya adalah uluwetu pertanian, yang diantaranya adalah tebu, padi, dan berbagai hasil bumi seperti padi, buah-buahan dan sayuran. ”Gunungan itu sebagai ungkapan syukur warga atas hasil panen yang melimpah,” terang Sugeng, yang juga menjadi Ketua Panitia Acara.

Lima buah jodang itu adalah hasil dari persembahan warga, lalu ditempatkan di lapangan untuk dinilai. Bentuknya beraneka ragam ada yang berbentuk rumah limasan, rumah panggung dan rumah adat Minangkabau, yang menggambarkan keanekaragaman suku yang ada di Indonesia.

Ritual yang baru diadakan kedua kalinya ini, rencananya akan menjadi agenda tahunan atas persetujuan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sleman. Sebelum menjadi agenda tahunan ritual upacara bersih desa ini hanya rayakan dengan melakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

”Tapi karena permintaan warga yang antusias untuk mengadakan perayaan ini lagi, maka tahun ini diadakan kembali,” ujarnya. ”Warga yang hadir saya perkirakan sekitar 1000 orang, dan antusias warga yang hadir membuat saya yakin tahun depan akan bisa dilaksanakan lagi.” (Theresia T. Andayani)

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)