PENGUSAHA TUNGGU SITUASI MEMBAIK ; Kredit Rp 1,023 Triliun Masih Tertahan - Jogja Info [dot] net

“Nderek Tumut Nguri-uri Kabudayan Jawi”


Breaking

Home Top Ad

Post Top Ad

Tuesday, 7 July 2009

PENGUSAHA TUNGGU SITUASI MEMBAIK ; Kredit Rp 1,023 Triliun Masih Tertahan

YOGYA (KR) - Kondisi usaha yang belum membaik membuat pengusaha masih wait and see untuk mengembangkan usaha, termasuk dalam menggunakan dana perbankan. Akibat kebingungan pengusaha ini, membuat dana kredit Rp 1,023 triliun yang telah disetujui bank belum dicairkan.

Keberadaan dana kredit yang masih tertahan di bank ini diungkapkan Pemimpin Bank Indonesia (BI) Yogyakarta Tjahjo Oetomo kepada wartawan terkait perkembangan ekonomi moneter terbaru di DIY kemarin. "Sejauh ini, memang kredit yang telah disalurkan bank sebesar Rp 10,8 triliun. Namun masih ada Rp 1,023 triliun dana kredit yang sudah disetujui bank, belum dicairkan oleh pengusaha karena melihat situasi usaha masih belum menguntungkan," ujar Tjahjo didampingi Peneliti Ekonomi Madya BI Yogyakarta Djoko Raharto dan Pengawas Bank Madya Juwandi Darmoatmodjo.

Diakui Tjahjo, besaran Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan di DIY pada Mei 2009 tercatat sebesar 52,91% atau mengalami penurunan dibandingkan Triwulan I-2009 yang tercatat 56,98%.
Ditambahkan Djoko, dari hasil survei cepat yang dilakukan BI Yogyakarta, memang banyak pengusaha yang masih menunggu perkembangan usaha ke depan. Dampak krisis global masih dirasakan hingga saat ini. Namun demikian, mereka juga optimis kondisi usaha akan membaik. Terungkap pula banyak di antara pengusaha masih belum berani untuk menggunakan tambahan modal kerja, mengingat kondisi pasar yang belum tumbuh lebih baik. Sebagian ada pula yang menggunakan modal tetapi kebanyakan bukan dari bank.
Menurut Juwandi, dana Rp 1,023 triliun yang belum bisa cair tersebut berupa modal kerja. Pengusaha menunda pencairan untuk menghindari beban bunga. Jika waktunya sudah mendukung, maka dana kredit yang sudah disetujui bank, biasanya akan diminta untuk dicairkan.
Tjahjo mengungkapkan, perekonomian DIY pada Triwulan II-2009 diperkirakan akan tumbuh 5% plus minus 1%. Kondisi ini akan lebih cepat dibandingkan Triwulan I yang tumbuh sebesar 3,08%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga (4,76%), investasi (4,35%), diikuti konsumsi pemerintah (4,98%).
Faktor yang mempengaruhi peningkatan konsumsi antara lain perbaikan daya beli masyarakat dikarenakan pada April memasuki musim panen raya (peningkatan nilai tukar petani/NTP), penerimaan gaji ke-13 dan mulai turunnya suku bunga kredit. Hal ini juga diperkuat pertumbuhan kredit konsumsi yang mengalami pertumbuhan 14,36%.
Beberapa hal yang membuat pertumbuhan investasi pada triwulan ini diperkirakan meningkat, antara lain dimulainya kegiatan penambangan di Pantai Selatan Kulonprogo, pembangunan internasional land port di Kulonprogo, perluasan Bandara Adisutjipto, dan dimulainya belanja investasi oleh swasta.
Terkait perkembangan makro ekonomi DIY, Tjahjo menjelaskan, Triwulan III-2009 diperkirakan masih tumbuh 3,5% plus minus 1%. Pertumbuhan ini pada sisi permintaan didorong investasi dan konsumsi rumah tangga. Investasi diperkirakan meningkat karena masuknya investor untuk membangun pabrik tekstil di DIY, pabrik besi di Kulonprogo dan waterbom di Bantul serta mulai dibelanjakannya investasi pemerintah dan swasta. Sedangkan konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat karena pada Juli telah memasuki awal tahun ajaran baru, awal Agustus memasuki bulan Ramadan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri pada September 2009. (Jon)-s

No comments:

Post a Comment

loading...
Disclaimer: Gambar dan video artikel pada website ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut. Jika ada masalah terkait hal ini, Anda dapat menghubungi kami disini.

Post Bottom Ad

Pasang Iklan Rp. 100.000,-/Bulan

Form Lowongan Kerja (FREE)