Selasa, 16 Februari 2010

HARIAN JOGJA- SLEMAN: Miliaran rupiah akan beredar di tiga daerah yang menggelar Pilkada, yaitu Kabupaten Sleman, Bantul, dan Gunungkidul pada hari pelaksanaan pemilihan kepala daerah pada 23 Mei 2010 mendatang.

Dari data yang dihimpun Harian Jogja, untuk Pilkada 2010, jumlah uang beredar dari honor saksi dari setiap pasangan calon mencapai ratusan juta rupiah. Di Gunungkidul, honor untuk saksi dari pasangan tim Sumpeno-Badingah yang bernama SB Makmur, menurut bendahara tim sukses Yuli Saptono sebesar Rp100.000 per orang.

Di Gunungkidul ada sekitar 1.888 tempat pemungutan suara (TPS) sehingga dari satu calon paling tidak dibutuhkan pengeluaran sekitar Rp188 juta. Di Gunungkidul ada 4 pasangan calon sehingga minimal Rp800 juta uang keluar untuk saksi.

Penghitungan anggaran untuk honor ini akan semakin membengkak jika memakai asumsi pasangan Sri Purnomo-Yuni Satia Rahayu (SP-Neni) yang akan maju dalam Pilkada Sleman.

Pasangan ini menyiapkan 8 relawan untuk tiap TPS dan di Sleman ada sekitar 1.200 TPS. Sehingga ada Rp960 juta uang yang dikeluarkan hanya untuk saksi pada hari pencoblosan.

Di Sleman hingga saat ini ada paling tidak ada 6 pasangan yang akan maju sehingga diperkirakan ada uang beredar sekitar Rp6 miliar. Belum lagi di Bantul yang kemungkinan ada 3 pasangan calon yang akan bertanding.

Penghitungan itu hanya dari honor saksi pada hari pelaksanaan pencoblosan Pilkada.

Padahal selain honor bagi saksi dari calon ada juga honor untuk panitia Pilkada yang menggunakan anggaran KPU dan pengawas yang menggunakan anggaran Panwas.

Nilai rupiah yang digelontorkan ini akan semakin banyak jika ditambah dengan anggaran untuk sosialisasi. Seperti pasangan Sutrisno-Slamet (SS) yang saat ini rajin mengadakan kunjungan ke desa-desa.

Djunendro ketua tim pemenangan SS mengaku sudah menyiapkan anggaran riil untuk kebutuhan berbagai penyelenggaraan pertemuan masyarakat dengan pasangan yang diusung yang telah digelar hampir 144 desa di Gunungkidul.

Kebutuhan riil pertemuan Sutrisno-Slamet dengan kantongkantong pemilih di sejumlah lokasi berbeda dan sangat tergantung dengan jumlah peserta yang hadir. Namun rata-rata kebutuhan mencapai Rp4 juta untuk tiap kegiatan.

Rata-rata senilai itu khusus menyiapkan makanan ala kadarnya termasuk snack berat (makan) dalam kegiatan kami,” kata Djunendro seusai memimpin pertemuan dengan warga Desa Wonosari, Minggu (14/2).

Diakui Djunendro untuk beberapa lokasi yang memang waktunya sangat terbatas dan dipandang tidak memungkinkan untuk disiapkan menjamu makan diberikan langsung masyarakat.

Tidak menutup kemungkinan, imbuh Djunendro, bagi kantongkantong suara Demokrat atau Golkar terbesar di beberapa titik lokasi bahkan sempat membutuhkan anggaran Rp13 juta dengan jumlah peserta sekitar 1.000.

Dengan anggaran minimal Rp4 juta akan dibutuhkan sekitar Rp576 juta untuk sosialisasi dan kalau tiap desa membutuhkan Rp13 juta ada sekitar Rp1,8 miliar yang harus dikucurkan tim sukses hanya untuk sosialisasi.

Tim sukses Sumpeno-Badingah (SB) atau SB Makmur menyiapkan sedikitnya Rp750.000 untuk program 1.000 dusun yang akan dikunjungi secara maraton. ‘Itu riil dan tidak bisa dihindari tim sukses siapapun untuk menyiapkan makan dan minuman serta bantuan operasional program masyarakat yang berjalan. Ngundang orang banyak harus siap gula dan teh dan sebatas wajar,” kata Yuli, mantan anggota DPRD Provinsi DIY menjadi orang kepercayaan SB.

Dari penghitungan tersebut, paling tidak dibutuhkan Rp750 juta untuk melakukan sosialisasi yang dilakukan tim SB. Belum lagi dana yang dikeluarkan oleh calon yang lain.

Belum lagi dana untuk pembuatan kaos, baliho, pamfl et dan alat peraga lainnya sehingga diprediksi dana yang harus disiapkan setiap calon cukup besar. Bahkan pasangan SP-Neni akan mengeluarkan dana yang besar untuk pencitraan karena mereka menggandeng Fox Indonesia, lembaga konsultan strategi dan politik yang digawangi oleh duet Mallarangeng bersaudara (Rizal-Choel).

Pasangan Bugiakso-Kabul Mudji Basuki yang akan maju dalam Pilkada di Sleman lewat jalur independen cukup terbuka mengungkapkan dana yang akan mereka keluarkan untuk Pilkada. Ketua tim sukses Bugiakso-Kabul, Agus Subagyo menegaskan, untuk perhelatan Pilkada ini, sudah disiapkan Rp5 miliar.

Sementara sikap malu-malu ditunjukkan oleh Sri Suryawidati yang akan maju dalam Pilkada Bantul. Balon yang resmi diusung Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Golongan Karya (Golkar), ini menjelaskan hingga saat ini belum menyiapkan nominal pasti dana kampanye.

Beberapa waktu lalu, Idham Samawi, suami dari Ida yang akan maju berpasangan dengan Sumarmo pernah menyebutkan akan menyiapkan anggaran sebesar Rp1 miliar untuk kampanye isterinya.

Sementara, Roeshadi Suwitohartono, bakal calon yang arahnya akan diusung Demokrat dan PKS menjelaskan, telah menyiapkan dana sejak awal keputusan maju. Namun, pemilik sejumlah rumah sakit ini enggan menyebutkan jumlah dana yang disiapkan.

Melihat besarnya dana yang dibutuhkan oleh setiap calon membuat anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul, Florentia Switi Andni mewanti-wanti agar setiap pasangan yang akan maju dalam Pilkada tidak menggunakan dana kampanye dari BUMD, BUMN, dan pihak asing.

Oleh Esdras Idialfero Ginting, Endro Guntoro & Shinta Maharani
HARIAN JOGJA

2 komentar

Semoga kalau sudah jadi tidak mencari tukar dengan korupsi. Yang tidak jadi semoga ikhlas shg tidak strees.

Saya dr Gunungkidul berharap, pemimpim yg terpilih semoga yg terbaik (pintar, jujur, mau berkorban, tidak banyak hutang). Scara pribadi saya ingin punya bupati yg orisinil tidak yang second hand. Gunungkidul Juga pantas punya bopati yang Intelek dan cerdas, walaupun namanya gunung.


EmoticonEmoticon