Sabtu, 27 Februari 2010

Yogyakarta - Prosesi gerebeg Maulud tahun Dal Keraton Yogyakarta mengeluarkan tujuh buah gunungan. Satu di antara tujuh buah gunungan itu adalah Gunungan Bromo yang akan dikeluarkan setiap 8 tahun sekali di Tahun Dal berdasarkan penanggalan tahun Jawa.

Gerebeg Maulud tahun Dal ini jatuh pada hari Jumat Kliwon, 26 Februari 2010 atau 12 Mulud tahun 1943 Jawa itu untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat acara digelar, puluhan warga menyaksikan prosesi yang digelar di kawasan Alun Alun Utara hingga halaman Masjid Besar Kauman Yogyakarta.

Gunungan yang berisi sayur-sayuran, palawija dan aneka macam hasil bumi itu merupakan tanda kemurahan hati raja Sri Sultan Hamengku Buwono X kepada masyarakat. Sebanyak 7 buah gunungan itu adalah 2 buah gunungan lanang, satu gunungan wadon, gepak, darat, pawuhan dan bromo. Gunungan yang paling istimewa adalah Gunungan Bromo yang hanya dikeluarkan setiap 8 tahun sekali. Satu buah gunungan lanang dipersembahkan untuk Puro Pakualaman Yogyakarta.

Lima gunungan itu diperebutkan di halaman Masjid Besar Kauman. Sedang gunungan Bromo setelah didoakan penghulu masjid dibawa kembali menuju keraton untuk diperebutkan keluarga Sultan.

Prosesi keluarnya 7 gunungan dari Bangsal Ponconiti menuju pagelaran keraton dipimpin langsung adik Sultan selaku manggalayuda prajurit keraton, GBPH Yudhaningrat. Turut serta mengawal prosesi ini dua brigade prajurit Puro Pakualaman yakni prajurit Plangkir dan Lombok Abang. Tujuh gunungan itu dikawal langsung prajurit Bugis dan Surokarso.

Saat gunungan keluar keraton 8 brigade prajurit keraton langsung memberikan penghormatan dengan 2 kali tembakan salvo. Selanjutnya dengan dikawa ketat aparat Poltabes Yogyakarta, Satpol PP Kota Yogyakarta, Kodim 0734 Yogyakarta, dan korp Marinir TNI AL gunungan dibawa menuju masjid.

Setelah ketujuh gunungan itu tiba di halaman masjid, Yudhaningrat bersama semua prajurit tetap mengawalnya. Di masjid besar, gunungan dimintakan doa penghulu masjid KRT H. Kamaludiningrat.

Saat didoakan, aparat keamanan menjaga ketat agar gunungan tidak dirayah terlebih dulu. Usai didoakan, Gunungan Bromo dengan pengawalan ketat dibawa kembali ke keraton. Sedang lima buah gunungan langsung ludes diambil warga yang ingin ngalap berkah dan memilikinya. Kurang dari lima menit lima gunungan itu ludes dijarah hingga tertinggal jodhang pembawa gunungan.

Bersamaan prosesi gunungan itu di depan Bangsal Kencono, Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja keraton Yogyakarta menggelar prosesi ngabekten Gerebeg Dal yang diikuti oleh kerabat/keluarga kraton, para abdi dalem dan semua bupati di Yogyakarta. Acara ngabekten ini juga hanya dilakukan 8 tahun sekali.

Dalam acara itu dua buah pusaka keraton yakni kendhil Kanjeng Nyai Mrico dan kendang Kanjeng Kyai Meyek dikeluarkan. Saat itu Sultan melakukan prosesi membuat nasi kepal. Nasi kepal yang ditanak menggunakan kendhil Kanjeng Nyai Mrico itu kemudian dibagikan kepada siapa pun yang hadir dalam acara itu. Ini juga merupakan tanda kemurahan dan sodaqoh raja.

Acara berakhir setelah gunungan Bromo dimasuk masuk ke keraton kemudian diperebutkan keluarga keraton.
(bgs/asy)


EmoticonEmoticon