Minggu, 21 Februari 2010

BANTUL (KRjogja.com) - Menurut rencana bulan Mei mendatang, ISI Yogyakarta akan membawa perupanya berpameran di Hungaria. Para perupa tersebut juga dilanjutkan dengan artsi residensi. Sebaliknya seniman Hungaria pada bulan Oktober akan berpameran dan residensi di Yogyakarta.

"Kalau dengan negara lain kami sudah sangat banyak tetapi baru pertama kalinya kerjasama dengan Hungaria. Kami berharap ini bisa menjadi menjadi perkembangan seni rupa Yogyakart pada khususnya dan Indonesia pada umumnya," terang Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Drs. Soprapto Soedjono di Rektorat ISI Yogyakarta, Sabtu (20/2)

Di Yogyakarta sendiri juga akan digelar pameran oleh perempuan perupa asal Hungaria Eszther Tari di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, 23 Februari - 10 Maret mendatang. Karya-karya dalam pameran bertajuk "Dimensi Rasa" itu merupakan lukisan yang dibuat dari tahun 2007 hingga 2010.

Eszther memberi subtitle pameran ini dengan "Pecs-Yogyakarta-Ubud" yang merupakan perjalanan kreatifnya dari kota asalnya Pecs, Hungaria hingga pengembaraan kreatifnya di Indonesia. Eszther pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1998 saat memperoleh beasiswa belajar di STSI Surakarta (kini ISI Surakarta). Disinilah pertama kali Eszther terlibat dengan kesenian tradisi Indonesia. Latar belakangnya sebagai pelukis akhirnya mengantarkannya untuk lebih fokus pada seni rupa kontemporer Indonesia.

"Karena Yogyakarta lebih dinamis dan berkembang seni rupa kontemporernya maka saya pindah ke sini. Ini sekaligus menjadi penelitian untuk program S3 saya," kata perupa yang juga menjadi dosen di Universitas Pecs itu.
Interaksinya dengan seni tradisi dan kontemporer di Indonesia pun diakui mempengaruhi karya-karya Eszther. Saat di Hungaria Eszter lebih menekuni lukisan non figuratif yang mengandalkan garis dan warna. Tarikan-tarikan garis yang kadang mirip satu dengan yang lain ini terkadang membentuk ruang berdimensi dalam lukisannya. Tetapi kadang bergerak bebas menyusun warna.

"Garis-garis saya sekarang ini banyak yang terinspirasi dari batik. Dan sekarang saya mulai mencoba memasukkan unsur figuratif. Tampaknya di Indonesia orang lebih senang dengan figur, tetapi di Hungaria lebih senang yang non figuratif dengan permainan garis dan warna yang bebas," ujar Eszther yang didampingi suaminya Atilla Marsal.

Tidak hanya menampilkan karya lukis Eszther Tari saja, pada tanggal 23-24 Februari, acara yang juga didukung ISI Yogyakarta itu akan menampilkan musik dan kuliner khas Hungaria. (Fir)


EmoticonEmoticon