Jumat, 19 Februari 2010

Usulan Rambu Tak Pernah Digubris
RADAR JOGJA - BANTUL - Dari catatan Tim SAR Pantai Parantritis Bantul, para wisatawan yang sering menjadi korban keganasan Pantai Parantritis Bantul, umumnya para wisatawan dari luar DIJ. Mereka sering menjadi korban, karena kurang menguasai atau tidak mengenal geografis pantai.

Sekretaris Tim SAR Pantai Parangtritis Taufik M Faqi mengatakan, pembangunan infrastruktur yang cukup pesat di Pantai Parangtritis tidak dibarengi dengan penambahan jumlah rambu-rambu peringatan daerah berbahaya. Padahal, rambu peringatan itu sangat membantu tim SAR dalam menjalankan tugasnya.

"Akses jalan menuju Pantai Parangtritis sangat banyak. Tapi, rambu-rambu peringatan di daerah berbahaya masih sangat minim. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya laka-laut dengan korban tewas," kata Taufik, kemarin (18/2).

Dikatakan, kebanyakan pengunjung yang menjadi korban berasal dari luar DIJ. Hal itu disebabkan, wisatawan luar daerah belum mamahami karakter Pantai Parangtritis yang cukup berbahaya bila pengunjung nekat berenang. Apalagi, kawasan pantai selatan mulai dari Pantai Parangtris hingga Pantai Parangkusumo terdapat banyak "lebeng" atau pusaran air laut yang dapat menyeret wisatawan ke tengah laut.

Menurut Taufik, Tim SAR tidak kurang-kurangnya memberikan peringatan kepada pengunjung yang ingin mandi ke laut melalui pengeras suara. Tapi, usaha mengingatkan itu pun sering diabaikan pengunjung.

Tim SAR pernah mengusulkan membuat peta daerah-daerah yang dilarang mandi dan daerah yang aman untuk mandi di laut kepada Pemda Bantul, tapi usulan Tim SAR tidak ditanggapi hingga sekarang.

"Tujuan pengadaan rambu sih, agar wisatawan sebelum menginjakkan kaki ke laut sudah mengetahui daerah mana yang aman untuk mandi. Tapi, bagaimana lagi usulan kami tidak diakomodir," terang Taufik.

Selain rambu peringatan, peralatan untuk penyelamatan juga masih sangat terbatas, seperti pelampung, perahu karet, sepeda motor untuk patroli, dan mobil untuk evakuasi. Kondisi ini menghambat langkah Tim SAR ketika hendak menyelamatkan laka laut.

"Saat ini kondisi sepeda motor dari Pemda Bantul tidak layak lagi dipakai, sehingga tidak mungkin lagi untuk melakukan penyisiran. Begitu pula dengan pengeras suara untuk memperingatkan wisatawan yang berenang di laut suaranya tidak akan bisa didengar oleh wisatawan yang jaraknya lebih dari 500 meter dari posko SAR. Kami berkali-kali mengusulkan untuk pengadaan pengeras suara, tapi sampai sekarang tidak ada tindaklanjutnya," tegas Taufik.

Komandan SAR Pantai Parangtritis Ali Sutanto Joko Saputro menjelaskan, jumlah anggota Tim SAR Pantai Parangtritis saat ini mencapai 50-an orang. Jumlah itu menjadi sangat minim, jika pengunjung lagi padat, karena tak jarang pengunjung mencapai belasan ribu orang. (mar)


EmoticonEmoticon