Senin, 15 Februari 2010

KULON PROGO, KOMPAS.com - Sekitar 30 mahasiswa dan dosen pertanian dari India, Malaysia, Bangladesh, dan Korea Selatan, mengunjungi wilayah pesisir Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, DIY, Minggu (14/2/2010). Mereka tertarik mempelajari sistem pertanian lahan pasir di wilayah tersebut sekaligus menjadikannya contoh bagi rencana pengembangan pertanian lahan kritis di Asia.

Kunjungan dimulai dari Pantai Samas dan Pandansimo di Bantul, dilanjutkan ke Pantai Bugel dan Glagah di Kulon Progo. Rombongan yang dipimpin Bambang Djatmo Kertonegoro, Dosen Ilmu Fisika Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, itu melihat langsung pengolahan tanah pasir dan sistem irigasi dari sumur-sumur dangkal yang saling terhubung (renteng).

"Sistem pertanian lahan pasir di pantai seperti ini kurang dikenal di negara-negara Asia, tapi bisa diterapkan dengan baik di Bantul dan Kulon Progo, sehingga cukup unik," ujar Bambang.

Di Bantul, luas lahan pertanian pantai diperkirakan mencapai 1.4l0 hektar, sementara di Kulon Progo lebih dari 3.000 hektar. Pertanian lahan pasir di DIY, lanjut Bambang, dimulai sejak 1985 oleh petani-petani Pantai Bugel, Panjatan, Kulon Progo.

Pertanian lahan pasir juga terus mengalami perbaikan. Ketua Kelompok Tani Bugel Karman mengatakan, petani lahan pasir sudah memakai plastik penutup lahan (mulsa) untuk menjaga kelembaban pasir, serta menghindari pertumbuhan tanaman pengganggu. Selain itu, sumur renteng juga sudah diganti pipa dan selang, sehingga petani tidak perlu repot bolak-balik menyiram tanaman.

Hasil pertanian lahan pasir juga terbukti meningkatkan taraf perekonomian petani. Pesisir Kulon Progo kini terkenal sebagai sentra penghasil cabai merah, semangka, dan sayuran. Dengan luas kepemilikan lahan rata -rata 2.000 meter persegi per orang, para petani pantai bisa mendapatkan penghasilan puluhan juta rupiah di masa panen yang berlangsung 2-3 kali setahun.

"Bisa dilihat sendiri, saat ini sudah tidak ada lagi petani yang jalan kaki. Mereka sudah mampu membeli motor sendiri," kata Karman di depan peserta kunjungan.

Aziz Arsyad, Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Putra Malaysia, kagum dengan usaha petani Bantul dan Kulon Progo dalam mengolah lahan kritis di tepi pantai. Menurut Aziz, banyak lahan pantai di Malaysia yang tidak dimanfaatkan karena kandungan zat hara tanah rendah dan air sulit didapat.

"Pantai di Malaysia sebenarnya hampir sama dengan pantai di sini (Bantul dan Kulon Progo), tetapi kondisinya yang berbeda. Pantai di Yogyakarta terkelola dengan baik dan begitu bermanfaat bagi warganya," ujar Aziz.

Aziz menyayangkan rencana pemanfaatan lahan pertanian pantai sebagai area pertambangan pasir besi. Menurutnya, seharusnya pemerintah daerah lebih memikirkan cara mengoptimalkan pantai sebagai alternatif lahan pertanian. Sebab, lahan-lahan pertanian di dataran rendah dan tinggi akan terancam hilang karena proses pembangunan wilayah yang berlangsung intensif.

Ketua Laboratorium Pengelolaan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Djafar Shiddieq menambahkan seharusnya Pemerintah Provinsi DIY dan Kabupaten Kulon Progo bangga karena wilayahnya menjadi percontohan pertanian pantai di tingkat Asia. Sehingga, pertanian pantai sudah sepatutnya tetap dilestarikan.


EmoticonEmoticon