Jumat, 05 Maret 2010

Dokter Forensik Menduga Korban Keracunan
RADAR JOGJA- Target polisi untuk melakukan outopsi terhadap tiga korban Lapen Maut akhirnya tuntas. Pagi kemarin, makam Ovi Sina, 39 di komplek makam KH Ahmad Dahlan Karangkajen Mergangsan berhasil dibongkar dan kemudian dilakukan outopsi ditempat.

Outopsi terhadap mayat Ovi Sina diperlukan polisi untuk melengkapi berkas perkara dari tersangka Agung Budiantoro, warga Brontokusuman Mergangsan. Dengan demikian dari tiga tersangka yang memiliki kaitan langsung dengan kematian para korban, berkas perkaranya bisa dilengkapi dengan hasil outopsi.

"Dalam kasus Lapen ini kami sudah menetapkan lima tersangka. Tiga diantaranya kuat diduga memiliki kaitan langsung dengan kematian para korban. Dengan outopsi terhadap korban Ovi Sina, berarti dari tiga tersangka tersebut bisa kami lengkapi dengan hasil outopsi tentang penyebab kematian korban," kata Waksatreskrim Poltabes Jogja AKP Sudarsono.

Tersangka pertama yang memiliki kaitan langsung dengan kematian para korban adalah Agung Budiantoro, 39 warga Brontokusuman Mergangsan. Dari tersangka ini, Lapen yang dijual mengakibatkan empat orang meninggal dunia, yaitu Ovi Sina, Yulistyo, Kalis dan Suratno. Outopsi terhadap Ovi Sina diharapkan bisa menjadi sample dari korban lainnya.

Kemudian dari tersangka Sekti Darminto, 52, polisi sudah berhasil melakukan outopsi terhadap jenazah Marsudi yang dilakukan Senin lusa di makam Kerkop (belakang THR, red) Mergangsan. Hasil outopsi terhadap Marsudi ini diharapkan bisa mewakili analisa medis terhadap penyebab kematian korban lainnya yang mengkonsumsi Lapen racikan Sekti Darminto. Korban tewas dari tersangka sekti Darminto ini ada tiga, yaitu Mursidi dan dua kakak beradik yaitu Slamet dan Marsudi.

Sementara untuk tersangka Gunawan Redjo M, 49, yang oleh penggemar Lapen lebih dikenal dengan peracik lapsa (Lapen Sardjito, red) polisi sudah berhasil melakukan outopsi terhadap jenazah Joko yang ditemukan tewas di sebuah kamar kos di kawasan Gendeng Gondokusuman. Jenazah Joko saat itu langsung dioutopsi sebelum sempat dimakamkan. Outopsi terhadap jenazah Joko diharapkan mampu mewakili dari korban Lapsa lainnya, yaitu Ardiansyah, Ardianto dan Sidik.

"Kami bersyukur akhirnya bisa melakukan outopsi terhadap tiga jenazah korban Lapen. langkah ini sangat diperlukan guna pembuktian di pengadilan. Saya tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada seluruh keluarga korban yang memberikan ijin dan bekerjasama dalam pengungkapan kasus ini," kata kasatreskrim Poltabes Jogja Kompol Saiful Anwar.

Sementara itu H Burhanudin dan Agus Parwoto yang masing-masing adalah ayah dan paman dari Ovi Sina berharap agar hasil outopsi ini bisa membantu proses penyidikan. "Karena alasanya adalah untuk penegakan hukum, maka kami tidak bisa melarang. Memang kami sempat keberatan, tapi itu semua hanya karena kami butuh waktu saja," kata Agus Prawoto.

Burhanudin berharap, Ovi Sina adalah korban terakhir dari liarnya peredaran miras oplosan. Pihaknya berharap aparat lebih tegas dalam menindak para penjual minuman oplosan. "Hukumannya harus diperberat agar para pengoplos benar-benar jera," kata Burhanudin yang memilih berada di luar area makam saat dilakukan outopsi terhadap jenazah putra sulungnya tersebut.

Harapan lebih juga diberikan oleh Reza adik terkecil dari Ovi Sina. Menurut Reza, 16 nyawa yang meninggal karena Lapen maut termasuk kakaknya tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Dirinya menduga bahwa sebenarnya korban lapen tersebut tidak hanya 16 orang. "Saya yakin korbannya lebih dari 16 orang, namun karena berbagai alasan, pihak keluarga memilih untuk tidak melapor ke polisi. Tetapi demi pelajaran kedepan untuk semua pihak, kami memutuskan untuk melaporkan kematian kakak saya," kata Reza.

Dari kesadaran keluarga Ovi Sina inilah polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus Lapen dan menetapkan lima tersangka. Untuk itu Reza juga berharap kasus Lapen ini bisa menjadi alasan perubahan regulasi terhadap peraturan peredaran Miras Oplosan. DPRD Kota dan Pemkot diminta segera membuat aturan baru tentang masalah ini.

"Harus ada revisi terhadap Perda Miras. Jangan sedikitpun memberikan kelonggaran terhadap peredaran miras oplosan yang sangat membahayakan. Perda yang saat ini berlaku harus segera diganti dengan Perda yang lebih tegas. Kemudian perda tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dimasa mendatang tidak perlu lagi ada cerita tentang warga Jogja yang menjadi korban minuman oplosan," kata Reza. Sementara itu dr Ida Bagus Surya selaku ketua Tim Outopsi dari RSUp Dr sardjito yang dibantu 4 dokter lain dan 30 dokter muda usai melakukan outopsi yang memakan waktu sekitar 1,5 jam menjelaskan bahwa hasil lengkap dari outopsi ini akan diberikan secepatnya. Menurutnya, dibutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu untuk mengetahui hasil secara lengkap.

Namun dari observasi awal yang dilakukan, dimana tampak ada kecenderungan warna biru pada kuku tangan korban, Ida Bagus Surya menduga ada indikasi keracunan sebelum korban meninggal dunia. "Sekilas indikasi tersebut ada, namun lebih baik menunggu hasil selengkapnya setelah dilakukan uji Lab. Setelah itu tentunya polisi bisa segera membandingkan dengan uji Lab dari Lapen yang sudah diperiksa di BB POM," kata Ida Bagus Surya. (ufi)


EmoticonEmoticon