Minggu, 07 Maret 2010

YOGYAKARTA(SI) – Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) meluncurkan alat deteksi cepat untuk mendiagnosis kanker leher yang diberi nama NPC Test Strip.
Menurut salah satu anggota penemu NPC Test Strip Sofia Mubarika, alat ini mampu mendeteksi lebih dini gejala kanker nasofarings sehingga bisa mencegah pasien mengalami stadium lanjut. ”Deteksi dini sangat mungkin. Selama ini penanganan pasien NPC sekitar 80% masuk stadium lanjut,” kata Sofia di Gedung Graha Wiyata FK UGM,Yogyakarta, kemarin. Peluncuran alat deteksi kanker leher tersebut digelar dengan bekerja sama dengan Laboratorium Hepatitis Nusa Tenggara Barat (NTB). Sekadar untuk diketahui, kanker nasofarings (kanker leher) merupakan penyakit peringkat keempat bagi wanita di Indonesia.

Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito, dari tahun 2002–2004, setidaknya ada 269 kasus kanker nasofarings. Bahkan, data terbaru menunjukkan kenaikan sebesar 100 kasus per tahun. Menurut Sofia, NPC Test Strip ini memiliki keterkaitan kuat (hampir 100 %) dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Karena itu, alat ini dikembangkan dengan menggunakan marker untuk mendeteksi EBV. Alat ini dapat juga mendeteksi angtibodi IgGterhadap protein early antigen(EA) sehingga pada orang sehat,tes ini akan memberikan hasil yang negatif dengan akurasi sangat tinggi. Sementara untuk yang tekena NPC,tes ini bisa menunjukkan hasil sekitar 83%.

”Saat ini, kita masih berusaha untuk menambah akurasinya jadi 100%,”katanya. Adapun harga satu NPS Test Strip bisa ditekan hingga Rp10.000. Pemeriksaan dengan NPS Test Strip dapat dilakukan dengan pengambilan satu tetes darah dari pasien untuk diuji serumnya yang diencerkan dengan larutan. NPC Test Strip kemudian dicelupkan pada larutan tersebut. Dalam waktu 3–5 menit, hasil pemeriksaan dapat dilihat berupa bentuk garis pada strip. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Dirjen Dikti Suryo Hapsoro menyambut baik peluncuran produk ini.

Menurut dia, hasil penelitian termasuk dalam kelompok riset industri sehingga bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Djalal menyambut baik lahirnya peneliti-peneliti dari kalangan perguruan tinggi dengan temuan cemerlang yang bisa menjadi rujukan internasional.”Kanker itu kan penyakit yang mendunia sehingga temuan ini tentu memiliki nilai plus,”ujarnya. Fasli mengatakan, pihak Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) siap mendorong kegiatan penelitian di universitas dengan memberikan bantuan dana secara langsung maupun dana untuk pengembangan sarana dan peralatan agar universitas tersebut dapat menjadi world class university.

”Penelitian di UGM termasuk yang terbesar sehingga dananya pun cukup besar,”ungkapnya. Bentuk dukungan lain adalah upaya penyebarluasan informasi hasil penelitian atau temuan agar dapat diterbitkan di jurnal-jurnal penelitian nasional bahkan internasional. Jikatemuantersebutakan dipresentasikan di forum dunia, Kemendiknas juga bersedia memfasilitasi dengan memberikan bantuan langsung. ”Untuk penelitian kanker,kami akan mendukung asosiasi profesi terkait untuk menyosialisasikannya dalam forum lokakarya atau seminar,”tandasnya.

Jika nantinya alat atau metode hasil temuan para dokter FK UGM akan dipergunakan secara luas, Kemendiknas bersama Kementerian Kesehatan dan perwakilan pengusaha akan membahasnya lebih lanjut. (kurniawan/inda s)


EmoticonEmoticon