Jumat, 05 Maret 2010

RADAR JOGJA - Hati-hati jika hendak menggunakan obat tetes mata yang dijual di apotik, terutama obat tetes mata yang mengandung steroid. Pasalnya, obat ini biasanya hanya diberikan pada penderita alergi dan penggunaannya hanya boleh diresepkan oleh dokter. Obat ini bisa menaikkan tekanan bola mata, dan jika diberikan sembarangan tanpa resep dokter, pengguna akan menderita glaukoma, yang pada akhirnya akan mengalami kebutaan.

Sepanjang tahun 2009, dokter spesialis mata RSUP Dr Sardjito dr Tatang Talka Gani, SpM menemukan 15 pasien usia produktif menderita glaukoma. Padahal, glaukoma biasanya menyerang seseorang yang usianya diatas 40 tahun. Seluruh pasien usia produktif tersebut menderita glaukoma akibat menggunakan obat tetes mata yang mengandung steroid tanpa resep dokter.

"Mereka membeli sendiri di apotik dan tak berdasarkan resep dokter. Kalau mau aman, beli saja obat tetes mata yang dijual bebas di pasaran," ujarnya dalam konferensi pers menyambut Hari Glaukoma Sedunia 2010 di RSUP Dr Sardjito, kemarin (2/3).

Glaukoma sendiri, kata dia, merupakan penyakit mata nomor dua penyebab kebutaan setelah katarak. Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 400 ribu kasus kebutaan akibat glaukoma, dan biasanya terjadi pada seseorang yang berusia diatas 40 tahun. Glaukoma juga merupakan penyebab kebutaan yang tak dapat diperbaiki (kebutaan permanen). Oleh sebab itu, penyakit ini sering disebut sebagai pencuri penglihatan dan pembunuh saraf mata secara diam-diam.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) DIJ Prof dr Suhardjo, SU,SpM mengatakan, obat tetes mata yang mengandung steroid memang terlihat ampuh mengobati penyakit mata. Jika diberikan kepada pada merah yang meradang, maka akan cepat hilang dan mata pulih seperti sedia kala. "Tapi obat ini tak bisa digunakan secara terus menerus, misal setiap kali sakit mata, pakai obat ini. Kalau tanpa resep dokter, glaukoma akan muncul," tambahnya.

Kebutaan akibat glaukoma, sambung dia, sebisa mungkin harus dicegah. Sebab, penderita glaukoma sudah sulit memiliki harapan bahwa penglihatannya akan kembali normal. Pengobatan yang dilakukan terhadap penderita glaukoma, biasanya hanya untuk mempertahankan kemampuan penglihatan yang masih tersisa, bukan mengembalikan penglihatan seperti semula. Pengobatan ini pun harus dilakukan seumur hidup, jika tak mau glaukoma yang diderita menjadi makin parah.

Sayangnya, kesadaran terhadap deteksi dini adanya glaukoma masih rendah. Sekitar 75 persen pasien glaukoma yang datang ke rumah sakit sudah dalam keadaan terlambat. Hal ini dimungkinkan karena gejala glaukoma tak begitu terlihat. Penderita hanya merasa pegal-pegal dan tak enak di mata, seperti gejala yang dirasakan saat mata terasa lelah.

Keseriusan masalah glaukoma ini, mengundang kalangan spesialis mata untuk melakukan pembahasan lebih lanjut terhadap penyakit ini. Diantaranya dengan mengadakan berbagai kegiatan terkait masalah glaukoma, antara lain seminar tentang pencegahan kebutaan glaukoma yang akan diselenggarakan 6 Maret, dan kegiatan Indonesia Ophthamology Meeting 'Understanding Glaucoma : Blindness Prevention 13-14 Maret mendatang di FK UGM. (nis)


EmoticonEmoticon