Selasa, 02 Maret 2010

YOGYA (KRjogja.com) - Dermatologi Tropis atau penyakit kulit dan Infeksi Menular Seksual (IMS) menunjukkan peningkatan prevalensi atau jumlah dalam beberapa tahun terakhir. Padahal beberapa upaya eliminasi penyakit tersebut terus diupayakan dan peningkatan peenderita penyakit tersebut tetap tak bisa terhindarkan.

"Misalkan saja penyakit infeksi kulit lepra, dimana pada tahun 2000 menunjukkan peningkatan prevalensi dari 0,86/10.000 penduduk menjadi 1,05/10.000 penduduk pada tahun 2007. Yakni dengan proporsi kecacacatan derajad II mencapai 8,8 persen," ujar ketua Pokja dan Kelamin Fakultas Kedokteran UGM, dr Agnes Sri Siswanti di Yogyakarta, Senin (1/3).

Untuk kasus inveksi HIV/AIDS, tambahnya, setiap tahun juga diperkirakan terus meningkat. "Sampai pada Desember 2009 saja telah tercatat data penderita HIV/AIDS mencapai 19.973 orang. Sehingga dengan banyaknya kasus dermatologi tropis dan IMS tersebut tentu saja merupakan sebuah tantangan bagi para dokter dan tenaga kesehatan lainnya," katanya.

Menurutnya, gambaran mengenai penyakit tersebut kadang mirip satu sama lain sehingga dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. "Beberapa penyakit seperti lepra dan infeksi pada penderita HIV/AIDS memang merupakan free great immitator pada penyekait kulit. Dengan demikian selayaknyalah para dokter spesialis maupun dokter umum selalu meningkatkan keterampilan," katanya.

Atas dasar itu pula, dalam rangka Dies Natalis Fakultas Kedokteran UGM tahun ini, bagian ilmu kesehatan, kulit dan kelamin FK UGM dan RS Dr. Sardjito akan menyelenggarakan seminar dermatologis tropis dan IMS. "Seminar ini akan diselenggarakan pada 6-7 Maret di auditorium magister managemen UGM. Nantinya disana akan dibahas lebih lanjut mengenai berbagai upaya untuk menangani masalah tersebut," imbuhnya. (Ran)


EmoticonEmoticon