Minggu, 07 Maret 2010

HARIAN JOGJA: Meski keputusan dibukanya kran impor gula pasir telah dimulai Januari lalu, realisasinya di beberapa daerah tak kunjung tiba, termasuk DIY. Sedianya DIY akan mendapat jatah 7.000 ton dari total 81.000 ton gula impor yang dikelola PTPN IX.

"Padahal kita berharap Februari lalu sudah bisa disalurkan, karena kalau gula impor sudah masuk, harga di pasar dipekirakan akan turun,” ujar Kabid Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) Propinsi DIY, Hardiyanto, Jumat (5/3).

Ia menyayangkan lambatnya realisasi di beberapa daerah (termasuk DIY) yang dikelola PTPN atau RNI, padahal beberapa wilayah yang dikelola Bulog (seperti DKI) penyaluran sudah dilakukan.

Lebih lanjut ia mengatakan, selama ini DIY memang sempat mendapat 'rembesan' gula dari daerah lain, dan itu terbukti mampu menurunkan harga gula.

"Sebelumnya di kisaran sampai Rp10.000-11.000 per kilogram sekarang hanya Rp10.300, kalau impor masuk kemungkinan bisa ditekan lagi,” tambahnya.

Meski begitu ia mengakui stok gula DIY masih cukup hingga masa giling April mendatang.

"Di Madukismo sampai Februari lalu masih ada setok 1.300 ton, itu masih cukup,” kata Hardiyanto. Konsumsi gula rata-rata oleh masyarakat DIY diperkirakan mencapai 1.125 ton tiap bulannya. Sedangkan untuk kebutuhan industri rumah tangga jumlahnya mencapai 2.625 ton tiap bulan.(Harian Jogja/Galih Kurniawan)


EmoticonEmoticon