Selasa, 02 Maret 2010

Yogyakarta - Hari ini tepat 61 tahun peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Banyak kontroversi mengenai peristiwa bersejarah perjuangan bangsa itu. Salah satunya siapa pemrakarsanya. Disebutkan, salah satunya adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Hal itu terungkap dalam seminar sejarah dan peluncuran buku 'Soeharto Jenderal Besar dari Kemusuk' di Monumen Jogja Kembali di Ringroad Utara, Sleman, Yogyakarta, Senin (1/3/2010).

Soekotjo, salah satu pelaku sejarah mengatakan, Serangan Oemoem 1 Maret 1949 diprakarsai Sri Sultan HB IX. Menurutnya, Sri Sultan banyak mengetahui situasi di luar negeri melalui radio. Dia kemudian menjalin kontak dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Keduanya kemudian sepakat akan melakukan serangan di siang hari.

"Namun waktu atau tanggal belum ditentukan. Untuk pelaksanaan diserahkan kepada Letkol Soeharto (Presiden ke 2 RI) yang saat itu menjabat Komandan Wehrkreise III. Setelah itu semua tentara diberitahu meski belum tahu waktunya kapan. Jadi jelas siapa yang memrakarsainya," kata Soekotjo.

Soeharto Ahli Perang

Sementara sejarahwan, Des Alwi, mengatakan Soeharto merupakan seorang ahli strategi perang. Karena itulah dia berhasil memimpin Serangan Oemoem 1 Maret dan menyebabkan Belanda banyak mengalami kerugian. Belanda pun kemudian mengeluarkan perintah untuk menangkap Soeharto.

"Pada 8 Maret 49, Belanda memerintahkan untuk mencari Soeharto. Dia dianggap sebagai biang Serangan Oemoem. Tapi Belanda tidak berhasil menemukan Soeharto yang sudah menyingkir ke perbukitan," kata Des Alwi.

Menurut Des Alwi, Serangan Oemoem 1 Maret 1949 menyebabkan Belanda mengalami banyak kerugian. Banyak prajurit Belanda yang terbunuh dalam peristiwa yang juga dikenal dengan sebutan serangan 6 jam di Yogyakarta itu.

"Bukti-bukti adanya pasukan Belanda yang mati itu bisa dilihat dari berita-berita yang ada di luar negeri serta pemakaman orang Belanda pada 2 Maret 1949," ungkap Des Alwi.

Hal senada juga dikatakan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Suhartono W. Menurutnya, Soeharto adalah seorang ahli strategi perang atau militer terutama saat melakukan serang umum. "Dia itu bisa dikatak sebagai orang yang patohan (hebat), punya inteligensi tinggal soal itu," ungkap Soehartono.

(bgs/djo)


EmoticonEmoticon