Sabtu, 29 Mei 2010

BANTUL: Akibat banjir beberapa waktu lalu, petani cabai dan palawija di Tirtosari dan Tirtohargo, Kretek, terpaksa memanen tanamannya lebih awal. Petani pun menanggung kerugian hingga ratusan juta rupiah. Adapun, menurut Ketua Gapoktan Tirtohargo Sumbawa sekitar 50 hektare lahan cabai tidak bisa dipanen.

Panen awal dilakukan karena air saat banjir kemarin telah merendam tanaman cabai dan palawija. Ditemui di areal persawahan di dekat kantor Kelurahaan Tirtosari, Ponijo salah satu petani menyatakan panen awal dilakukan karena akar tanaman cabai sudah busuk akibat terendam air.

“Padahal tanaman cabai ini baru panen dua kali. Masih tersisa lima kali panen lagi. Terpaksa dipanen awal, karena sudah busuk,” jelasnya, Rabu (26/5).

Tahun ini, petani palawija dan cabai Bantul memang mendapat kerugian yang besar akibat banjir. Kerugian bertambah karena harga palawija, cabai dan bawang merah tengah turun. Perkiraan sementara, dengan luas lahan satu hektare lebih kerugian akibat tergenang air mencapai Rp30 juta.

Menurut petani lain, Marduki, pada kondisi normal harga cabai per kilogramnya bisa mencapai Rp8.000. “Tapi karena masih muda dan mengalami penurunan kualitas, harga perkilonya hanya mencapai Rp2.000,” katanya.

Sementara itu, ditemui di kantornya, Suranta, Kepala Desa Tirtosari menuturkan berdasarkan laporan dari warganya, luas sawah yang terendam air sekitar 32 hektare lahan kedelai sekitar 8 hektare serta 70 hektare palawija dan lombok.

“Kerugian terbesar dialami kalangan petani yang menanam lombok, sedangkan untuk petani kedelai tidak terlalu besar karena dua hari sebelum banjir mereka baru menyebar benih. Prediksi awal kami, kerugian mencapai ratusan juta rupiah,” jelasnya.

Selain karena faktor salah musim serta kelalaian membuka satu pintu air, Suranta juga menyalahkan belum adanya perbaikan irigasi utama yang terbentang 1 kilometer dari Tirtomulyo hingga Tirtohargo. Akibatnya, saluran tidak mampu menampung debit air.

Padahal permintaan perbaikan saluran sudah diajukan setiap tahun baik melalui musrenbang maupun proposal langsung ke dinas terkait, namun tidak mendapatkan tanggapan.

“Laporan kerugian saat ini sedang disusun dan segera dilaporkan ke Pemkab. Kami sangat berharap saat musim tanam Agustus nanti, Pemkab maupun pihak berwenang memberikan bantuan, entah itu benih maupun lainnya,” pungkasnya.

Oleh Kukuh Setyono
HARIAN JOGJA


EmoticonEmoticon