Selasa, 11 Mei 2010

YOGYA (KRjogja.com) - Hari Lupus Internasional yang jatuh setiap tanggal 10 Mei, diharapkan memberi harapan baru bagi para odapus atau penderita Lupus. Lupus atau penyakit yang secara medis dikenal dengan nama lengkap Lupus Eritematosus Sistemik (LES), masih merupakan penyakit yang menakutkan terutama bagi perempuan, karena 90 persen perempuan usia produktif rentan sekali terkena penyakit ini.

Seperti dikatakan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DIY, Dr Arida Utami penyakit ini bukan disebabkan oleh virus maupun kuman, tetapi karena faktor imudisis atau kekebalan diri yang menurun terutama perempuan produktif yang sudah menstruasi karena mempunyai hormon estrogen.

"Hampir 90 persen Lupus menyerang perempuan usia produktif atau subur yang termasuk dalam salah satu kategori Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf," katanya saat dihubungi KRjogja.com, Senin (10/5).

Sedangkan bagi perempuan yang sudah memasuki masa menopause justru lebih kecil terserang penyakit ini. Penyakit ini dapat mengganggu kehamilan yang akan mengakibatakan keguguran janin. "Akan lebih fatal lagi dan membahayakan hidup si penderita Lupus apabila ditambah dengan penyakit lain karena daya tubuhnya akan semakin menurun," imbuhnya.

Lebih lanjut, Arida mengatakan, secara klinis Lupus dapat berupa kelainan kulit, kelainan di saluran pencernaan, paru-paru, jantung, hati, ginjal, pembuluh darah, tulang dan sendi, kelainan darah, sistem saraf dan lain-lain. Penyakit Lupus ini bersifat kronis dan ditandai dengan adanya remisi atau masa penyakit tidak bergejala dan eksaserbasi atau masa penyakit memperlihatkan gejala yang khas.

"Seseorang dapat dikatakan menderita penyakit Lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri. Penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi Serigala, tetapi berwarna putih," katanya.

Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, tambahnya, penyakit ini kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Lupus disebut sebagai autoimmune disease atau penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan.

Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk, yang pertama yaitu Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus (DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

Arida mengatakan, sebenarnya banyak hal yang menyebabkan terkena penyakit ini, atara lain adanya faktor genetik atau keturunan yang 10 persen orang yang mengidap Lupus diturunkan dari keluarganya, lingkungan tempat tinggal yang tidak cocok dengan kondisi imun yang dimiliki setiap orang akan rentan terhadap infeksi baik pada makanan maupun minuman.

Mengenai jumlah penderita Lupus di DIY belum bisa dipastikan karena memang masih minim masyarakat yang terkena penyakit ini dan untuk pengobatannya memerlukan penanganan yang khusus terutama bagi penderita Lupus yang sistemik karena menyerang organ-organ vital manusia melalui pembuluh darah. "Kemampuan penderita untuk sembuh tergantung pada tingkat kekebalan atau imun yaitu T-sel, karena itu yang diserang," katanya. (Fir)


EmoticonEmoticon