Minggu, 30 Mei 2010

BANTUL, KOMPAS.com - Kalangan peternak sapi di Bantul sangat terpukul karena harga jual sapi dua bulan terakhir turun sekitar 20 persen. Kondisi tersebut banyak dipicu oleh banyaknya daging sapi impor yang masuk ke Indonesia. Karenanya Pemerintah Kabupaten Bantul mendesak supaya kegiatan impor tersebut dihentikan agar peternak lebih bergairah sehingga lebih mempercepat swasembada daging.

Di tingkat peternak, harga sapi bibit umur 4 bulan jenis lokal yang biasanya Rp 4 juta/ekor sekarang hanya Rp 3,25 juta/ekor. Bahkan sapi bibit jenis metal umur 4 bulan juga turun biasanya Rp 6 juta, sekarang Rp 4 juta/ekor. Sedangkan sapi dewasa (pedaging) jenis lokal umur 3 tahun biasanya mencapai Rp 7 juta, saat ini hanya Rp 5,5 juta/ekor. Sapi metal umur 1 tahun biasanya mencapai Rp 8 juta, sekarang merosot hingga Rp 6-6,5 juta.

Kekecewaan di kalangan peternak memang bisa dimengerti karena disatu sisi harga pakan tetap namun harga jual ternak justru menurun. "Harga sapi bukan bersifat lokal namun setidaknya bersifat regional Jawa, mengingat perdagangan sapi antar daerah sangat terbuka. Para padagang ataupun blantik memasang harga beli relatif rendah dengan alasan suplai sapi di pasar cukup banyak," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Edy Suharyanto, Sabtu (29/5/2010).

Menurutnya, suplai sapi kemungkinan makin diperbesar dengan sejumlah peternak yang menjual sapinya untuk biaya sekolah anak. Jika hal tersebut menambah tingginya suplai pasar, maka langkah impor daging dan sapi menjadi sangat tidak relevan. "Oleh karenanya, akan lebih bijaksana bila sapi lokal menjadi satu sumber daging pasar dalam negeri," katanya.



EmoticonEmoticon