Minggu, 30 Mei 2010

Kembali Mengajar, Saatnya Forgive and Forget
RADAR JOGJA- Anggito Abimanyu kembali ke UGM. Setelah mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala Kebijakan Fiskal Depkeu, Anggito memutuskan kembali menjadi dosen. Kepada wartawan dan pimpinan FEB yang menyambutnya kembali, Anggito enggan bercerita alasan pengunduran dirinya. Dia lebih bersemangat ditanya rencana mata kuliah yang diajarnya atau musik jazz.

Kemarin (27/5), setelah kembali dari Jakarta dengan pesawat pagi, Anggito datang ke UGM. Di sana, dia disambut pimpinan dan kolega FEB UGM. Meski secara resmi baru akan mengajar semester ganjil 2010/2011 yang dimulai Agustus nanti, Anggito sudah memikirkan mata kuliah apa saja yang akan diampunya.

Kepada Dekan FEB UGM Marwan Asri dan para ketua jurusan serta koleganya di FEB Sri Adiningsih, Anggito mengatakan akan mengajar dua mata kuliah saja. Dia juga menghendaki digaji sesuai dengan kemampuannya mengajar, tidak dilebihkan karena status Anggito sebelumnya.

Secara resmi, dirinya sudah 10 tahun absen sebagai dosen aktif di UGM. Dan tidak sekalipun mengajar selama dua tahun ini. Karena itu, dalam acara makan siang bersama kemarin, Anggito meminta bimbingan kepada para koleganya.

"Saya sudah absen mengajar sama sekali sejak dua tahun belakangan ini. Makanya, saya kemarin minta saran ke pak Mudrajad (Mudrajad Koencoro, dosen FEB). Saya juga Tanya, apa yang bisa saya Bantu," paparnya sebelum makan siang.

Anggito menambahkan, dirinya sudah mulai menyiapkan materi dan buku-buku untuk mengajar mata kuliah Pengantar Ekonomi dan Ekonomi Indonesia. Dia, terutama, ingin mengajar mahasiswa baru di semester-semester awal.

"Saya akan memberikan mata kuliah Pengantar Ekonomi. Tapi sekarang namanya juga sudah ganti. Jadi Ekonomi Pengantar. Pengalaman saya selama 10 tahun di pemerintahan akan saya bagikan. Saya juga punya kewajiban moral," jelasnya yang siang itu mengenakan batik lengan panjang.

Pria yang juga dikenal sebagai pemain saxophone itu sempat kaget ketika kehadirannya di UC Resto UGM untuk makan siang ternyata sudah ditunggu banyak wartawan. "Tidak ada yang luar biasa kan? Saya hanya seseorang yang pulang ke rumahnya. Untuk mengajar di almamaternya," ungkapnya.

Wartawan yang sudah menunggu komentarnya tentang pengunduran dirinya juga tidak mendapat jawaban panjang lebar. Terhadap pengunduran dirinya, Anggito hanya berucap tidak ingin membuka lembaran lama.

"Saya kembali ke UGM untuk membuka lembaran baru. Tidak usah membahas yang lalu-lalu. Sekarang saatnya forgive and forget (memaafkan dan melupakan). Itupun kalau ada salahnya. Sudah, saya jangan ditanya-tanya itu. Tanya yang lain saja. Soal akademik, soal musik, soal olahraga, saya antusias, tapi tidak usah bertanya soal pengunduran diri saya," ungkapnya.

Saat ini, fokusnya adalah pengalihan status kepegawaian dari pegawai departemen keuangan menjadi dosen di UGM. Pengalihan status ini, lanjutnya, merupakan sebuah tes terhadap sistem birokrasi Indonesia. "Sewaktu pengalihan status saya dari dosen ke pegawai pemerintah, saya butuh waktu enam bulan. Sekarang, saya tidak tahu butuh berapa lama. Birokrasi kita apa tidak bisa dipersingkat?" jelasnya.

Dekan FEB Marwan Asri mengatakan Anggito adalah bagian dari keluarga besar FEB UGM. Sehingga kehadirannya diterima dengan tangan terbuka. "UGM adalah rumahnya. Karena itu, kehadirannya diterima dengan senang hati. Saya yakin perannya dibutuhkan di sini. Apalagi dia memiliki pengalaman yang banyak di bidang pemerintahan," paparnya.

Pengalaman yang banyak, tambah pria berkacamata ini, akan memperkaya pengetahuan para mahasiswa. "Tidak semua orang memiliki pengalaman sepertinya. Anggito juga dibutuhkan untuk membantu penelitian mahasiswa S3," ujarnya.

Setelah mengundurkan diri dari jabatannya, Anggito memang sempat berkirim pesan singkat dengan Marwan. Isinya bertanya apakah dia bisa kembali ke kampus. "Jawaban pak Marwan, bahwa UGM adalah rumah saya, adalah jawaban yang sangat melegakan. Jadi saya kembali, bersama keluarga saya, ke Jogja, dengan penuh kegembiraan," tuturnya. (luf)



EmoticonEmoticon