Kamis, 06 Mei 2010

SLEMAN (KRjogja.com) - Indonesia terancam krisis pangan karena berbagai faktor seperti tingginya angka kemiskinan sehingga masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan hingga kurangnya produksi pangan nasional.

Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Dr. Siswono Yudo Husodo dalam Seminar Ketahanan Pangan dalam Perspektif Sejarah di University Club (UC) Univeristas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (5/5)

"Bagi mayoritas masyarakat yang rata-rata menggunakan 40 % dari belanja hidupnya untuk pangan, kenaikan harga pangan sangat memberatkan 17 % rakyat Indonesia yang termiskin, tidak mampu membeli pangan yang bergizi. Yang terjadi bukan krisis pangan, karena pangan tersedia tetapi krisis daya beli rakyat," ujarnya

Dia menjelaskan faktor yang kedua ketergantungan pada pangan impor. Meskipun sebagai negara agraris, Indonesia masih menajdi negara pengimpor pangan yang cukup besar. Pemerintah mengeluarkan Rp50 triliun untuk mengimpor pangan setiap tahun.

" Antara Maret 2007 sampai dengan Maret 2008, kita mengimpor gula 37,48 % dari kebutuhan nasional, mengimpor rata-rata 1,5 juta ton garam/tahun senilai sekitar Rp.900 miliar yang merupakan 50% dari kebutuhan garam nasional, mengimpor 70 % dari kebutuhan nasional kedalai, 11,23% kebutuhan jagung, 15 % kebutuhan kacang tanah," paparnya.

Dia menambahkan setiap tahun, Indonesia juga mengimpor 650.000 ekor sapi yang merupakan 29,09 % dari konsumsi daging sapi nasional. Untuk komoditas daging sapi, Indonesia menjadi negara importir 33 dunia dengan rata-rata impor dalam lima tahun terakhir berkisar 13,60 ribu ton. Selain itu 70% kebutuhan susu juga masih di impor. (Fir)


EmoticonEmoticon