Rabu, 19 Mei 2010

YOGYA (KRjogja.com) - Dari puluhan percetakan di Indonesia yang mencetak soal Ujian Nasional (UN), enam diantaranya bermasalah, diantaranya tidak mencetak soal ujian dengan baik dan benar. Bahkan ada satu dari percetakan yang terbukti sengaja melakukan pembocoran soal UN.

"Saya tidak hafal mana-mana saja, namun ada satu di Medan yang oknum percetakannya terbukti membocorkan soal ujian, sehingga di dua sekolah, UN terpaksa diulang. Ini sudah disidik oleh Polisi," ujar Wamendiknas Fasli Jalal usai menjadi keynote speaker seminar di UNY.

Ia menjelaskan, keenam percetakan tersebut kini sudah di daftar-hitamkan. Ke depan, ia mengaku, akan meningkatkan pengawasan pemilihan percetaka oleh masing-masing daerah.

"Pencetakan soal kan dari masing-masing daerah, kita yang membayar. Sebenarnya sudah ada SOP-nya, untuk memilih pecetakan yang layak, diantaranya tidak boleh mencetak barang-barang lain, dan tidak boleh orang bebas keluar masuk percetakan. Ke depan pengawasan untuk proses tender akan lebih diperketat," jelasnya.

Wamendiknas menjelaskan pula, anjloknya hasil ujian utama UN tahun ini merupakan potret kondisi riil siswa. Menurutnya, pengawasa dilakukan secara ketat, sehingga di dalam UN tahun ini, ditemukan 1000 laporan pelangagran dari seluruh daerah di Indonesia.

"Siswa selama ini terkendala dengan adanya isu bocoran soal. Kendala lain adalah masalah pensil dan menghitamkan. Selain itu, banyak siswa yang terlalu cemas. Untuk itu, perlu terus diadakan latihan dan simulasi UN, karena anak pintar pun kadang terkendala karena cemas," tambahnya. (Den)


EmoticonEmoticon