Rabu, 19 Mei 2010

Yogyakarta - Lima orang wakil Kongres Amerika Serikat (AS) berkunjung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta. Komisi Kebebasan Beragama International yang didirikan Kongres AS ini ingin mengetahui kerukunan dan keberagaman kehidupan beragama di Yogyakarta.

Dalam lawatan selama satu hari itu, selain mengunjungi Ponpes Nurul Ummah di Kelurahan Prenggan Kotagede, rombongan juga bertemu dengan Gubernur Provinsi DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X di kantor di Kepatihan Yogyakarta.

Di Ponpres Nurul Ummah, rombongan langsung ditemui pengasuh KH Abdul Muhaimin bersama sejumlah pengurus dan pemuka agama lainnya. Dalam kunjungan selama 1,5 jam mereka tampak senang dan antusias menanyakan berbagai hal terutama masalah kerukunan beragama. Mereka diterima pengurus ponpes dengan duduk secara lesehan bersama-sama.

"Kami selama 4 hari berada di Jakarta dan Yogyakarta. Kami ke sini untuk mengetahuia dan belajar banyak hal terutama masalah pluralitas keagamaan. Kami sangat senang dengan sambutan yang penuh persaudaraan ini dan nanti akan kami sampaikan ke kongres dan presiden," ungkap Michael.

Pengasuh Ponpes Nurul Ummah, Abdul Muhaimin mengungkapkan kerukunan antar umat beragama dan plularitas beragama di DIY selalu terjaga dengan baik selama ini. Hal itu tidak lepas dari peranan Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) yang didirikan sejak tahun 1997.

FPUB merupakan organisasi dan sebuah forum lintas agama yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh agama baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu Budha dan lainnya. "Dari tokoh-tokoh agama yang berkumpul itu ternyata mampu tercipta kerukunan dan hidup berdampingan," katanya.

Berkaitan dengan isu terorisme dia menambahkan sumber terorisme bukan berasal dari ponpes dan biasanya rekrutmen dilakukan di luar ponpes. Hal itu yang harus disadari sehingga para santri dan lingkungan sekitar tidak terpengaruh terorisme.

Menurut dia, semua aksi terorisme di Indonesia ini berasal dari negara lain. Para teroris itu mengadopsi dari luar seperti dari Afganistan, Pakistan atau negala lainnya. "Jadi, tidak ada teroris itu yang berasal dari lingkungan pesantren," katanya.

(djo/djo)


EmoticonEmoticon