Kamis, 27 Mei 2010

“Sugeng siang Pak Rektor UNY, Rochmat Wahab,...menika leres mboten nggih ,(selamat siang Pak rektor UNY, Rochmat Wahab...ini benar atau tidak ya namanya)?” Sahutan penonton diiringi gelak tawa pun terdengar,...leres (benar)..!

Begitulah sapaan Adam Gifari (10), dalang cilik asal solo yang juga merupakan putra Raja Dangdut Rhoma Irama saat menunjukkan kebolehannya di Festival Dalang Ciliki UNY, Selasa (25/5).

Tawa penonton begitu renyah dan lepas ketika siswa kelas 4 SD Al-Firdaus Solo ini terus menerus mengeluarkan leluconnya. Alhasil, festival wayang yang biasanya enggan ditonton, justru malah makin dikerumuni massa.

Perhatian penonton pun tak berpindah saat dirinya memainkan tokoh Prabu Baka yang berperang dengan Raden Bratasena. Lentur, indah, lincah, dan berimprovisasi, inilah yang terlihat jelas saat Adam memainkan lakon-lakon wayang itu.

Gelengan kepala dan sorakan pun tak henti-hentinya terdengar berkali-kali. Bahkan, pengamat wayang Jogja, yang juga Dosen Fakultas Teknik UNY, Suyanto mengaku jika seusia Adam sangat hebat untuk melakukan improvisasi dan mahir memainkan pathet atau nada dasar gamelan.

“Main wayang itu kayak main playstion. Lebih berguna dan bisa belajar banyak karakter tokoh wayang,” kata Adam yang mengaku tidak memiliki playstation di rumahnya.

Wayang menjadi sesuatu yang sangat menarik dan tidak membosankan bagi Adam. Sejak usia 3,5 tahun ini, penggemar Anoman ini mengaku sudah belajar seni wayang di Sanggar Sarotama pimpinan Pujiono. Nguri-nguri kebudayaan Jawa, menjadi salah satu alasannya untuk terus mempelajari wayang dan karakternya.

Adam yang bercita-cita menjadi presiden ini turut prihatin dengan kondisi generasi penerus saat ini. Generasi saat ini jarang yang mau nguri-nguri kebudayaan Jawa. Pengaruh playstation atau game lainnya sangat mempengaruhi kondis anak saat ini. Ia berharap, berkecimpungnya dalam dunia wayang ini semaikin bisa mengajak generasi penerus untuk melestarikan budaya Jawa.

Dalang cilik Jogja asal Jogja, Putra Laksana Tanjung (12) menambahkan, karakter wayang terutama yang baik bisa menjadi panutan dalam kehidupan.Dengan begitu, dirinya berharap generasi penerus semakin mencintai wayang Indonesia.

Ketua Penyelenggara Festival Dalang Cilik UNY, Sardiman mengaku kebolehan 4 dalang dari Jogja dan Solo yang berpartisipasi dalam acara tersebut sangat mengesankan. Bahkan, kemampuan mereka hampir serupa dengan dalang-dalang profesional.

Sardiman melanjutkan, selain untuk nguri-nguri kebudayaan Jawa, festival tersebut memang diadakan untuk mencari bibit-bibit unggul dalam hal perdalangan. Selain itu, kolaborasi wayang Jogja dan Solo diharapkan menjadi referensi untuk pengembangan wayang saat ini.

Pembantu Rektor 2 UNY, Sutrisna Wibawa tak menampik kebolehan para dalang cilik sangat bagus. Improvisasi dalang cilik dalam pentasnya diakuinya menjadi kekuatan dari ajang tersebut. Hanya saja, lanjutnya, dalang cilik tersebut belum bisa mengontrol suaranya.

“Festival dalang cilik ini akan menjadi agenda tahunan UNY. Festival ini perlu digiatkan agar kemampuan dalang cilik ini berkembang,” imbuh Sutrisna.

Oleh Olivia Lewi Pramesti
WARTAWAN HARIAN JOGJA

internet marketing


EmoticonEmoticon