Selasa, 18 Mei 2010

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Keinginan warga Yogyakarta bertaruh nasib menjadi TKI di luar negeri berkurang drastis. Kini, kian sedikit warga yang masu menjadi 'pahlawan devisa' itu.

''Sekarang ada 2.500 orang saja sudah hebat,'' ungkap Gimmy Rusdin, Ketua Paguyuban Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) DI Yogyakarta, menggambarkan semakin menurunnya minat warga Yogya untuk bekerja ke luar negeri.

Gimmy mengatakan, penurunan ini mulai terjadi sejak krisis global memasuki tahun 2009. Sedang pada tahun 2007, DIY bisa mengirim sekitar 6.000 TKI dan tahun 2008 pengiriman TKI mencapai angka 13.289 orang.

''Pemberitaan tentang kekerasan terhadap TKI yang bekerja sebagai PRT di luar negeri turut mempengaruhi minat warga DIY untuk bekerja di luar negeri,'' jelas Gimmy saat beraudensi dengan anggota DPRD DI Yogya.

Menurut dia, kekerasan tersebut sebenarnya bersifat kasuistis dan tak berhubungan dengan warga DIY yang bekerja di luar negeri. Pasalnya, warga DIY umumnya hanya mengirim TKI di sektor formal, untuk bekerja di pabrik, bukan menjadi PRT.

Gimmy mengatakan, pengurangan jumlah warga DIY yang bekerja keluar negeri ini berbanding terbalik dengan jumlah pengangguran di DIY. Ia mengatakan, jumlah pengangguran di DIY diperkirakan mencapai 180 ribu orang dan baru 20 persennya siap berangkat ke luar negeri.

Red: Budi Raharjo
Rep: Yoebal Ganesha


EmoticonEmoticon