Kamis, 13 Mei 2010

Jawab Keresahan Masalah Sampah
RADAR JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja gencar mencegah kerusakan lingkungan. Salah satunya dengan membangun Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) yang tersebar di Jogja. Jika mampu membangun delapan IPST, sampah yang di Jogja yang mencapai 1200 meterkubik akan terkelola dengan baik. Tapi, rencana tersebut belum berjalan dan baru disosialisasikan ke masyarakat, sudah mengalami kesulitan lahan.

"Jika pembangunan delapan IPST mampu terpenuhi, sampah di Kota Jogjakarta akan ditekan sampai nol persen yang terbuang ke TPA," kata Benny Nurhantoro, Kepala Bidang Kebersihan Badan Lingkungan Hidup (BLH), kemarin (12/5), di kompleks balai kota.

IPST ini menurut Benny masih dalam proses mencari lahan. Ia memperkirakan tahun 2011 di Kota Jogja sudah ada enam bangunan. Tempat ini akan dibangun di Utara, timur, barat, dan selatan, dengan mempertimbangkan potensi sampah masing-masing wilayah. Lima IPST akan dibangun di Karangwaru, Patangpuluhan, Kotabaru, Gedongtengen, dan Batikan.

Lima pengolahan sampah tersebut, akan memberdayakan masyarakat sekitar. Mereka menjadi pelaku dari pengolahan sampah. Mulai dari mengumpulkan sampah, merajang sampah, sampai menghasilkan sampah rajangan dan plastik yang telah siap didaur ulang.

Sampah rajangan ini, dari konsep awal BLH Kota Jogja dan BLH Provinsi, dimanfaatkan pengolah sampah di empat kabupaten di DIJ. Sampah ini diolah menjadi kompos untuk memupuk pertanian di masing-masing daerah itu.

Saat ini di seluruh Kota Jogja menghasilkan sampah 1074 meterkubik perhari. Jumlah tersebut, dapat teratasi dengan membangun delapan IPST yang berkekuatan 150meterkubik perhari. "Kami baru memiliki satu IPST yang dinamai Migunani di Nitikan. Kekuatannya baru 120meterkubik perhari. Tahun depan, kami naikkan menjadi 150 meterkubik," terang lelaki yang akrab disapa Benny ini.

Namun, proyek tersebut belum berjalan, BLH mengalami kendala berarti. Mereka kesulitan mendapatkan lahan untuk menempatkan alat yang harganya Rp 520 juta ini. "Minimal setiap IPST membutuhkan lahan 275 meterpersegi. Saat ini lahan yang sudah siap digunakan baru dua yakni di Nitikan dan Sekolah Tinggi Teknologi Pertanian (STTP) di Jalan Batikan," tuturnya.

Jika proyek ini dapat berjalan, sebenarnya BLH dapat memangkas anggaran operasional soal kebersihan sangat besar. Setiap tahun, pemkot minimal menghemat Rp 6 miliar yang dikeluarkan membiayai operasional truk sampah dan bayar TPA Piyungan Rp 2 miliar. Apalagi, dalam proyek pembangunan lima IPST ini, pemkot tak mengeluarkan uang guna membeli cluster atau alat pengolahan. Cluster dibeli menggunakan dana hibah dari luar negeri.

Ketua Komisi C Zuhrif Hudaya dihubungi terpisah tak sepakat jika pemkot memaksakan hal tersebut kepada masyarakat. "Secara umum proyek tersebut sangat bagus. Tapi, ingat pemkot juga harus memperhatikan lahan yang akan menjadi tempat mendirikan IPST. Jangan sampai harus menggusur pemukiman. Karena, jika ini dilakukan pemkot mengatasi masalah dengan menambah masalah," tandas politikus dari FPKS ini.

Zuhrif pun menyatakan, pembangunan IPST ini akan sangat membantu menekan angka pembuangan sampah yang dihasilkan dari masyarakat di Jogjakarta. "Selain itu, proyek ini katanya juga akan melibatkan masyarakat sepenuhnya. Ini jika berjalan juga meningkatkan ekonomi dari masyarakat sekitar IPST selain kesadaran mereka," tambahnya. (eri)


EmoticonEmoticon